
UPdates—Harga MinyaKita melonjak di pasaran. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengungkap lonjakan harga dipicu tersedotnya pasokan ke program bantuan pangan dalam dua bulan terakhir.
You may also like :
Bawaslu Tegaskan Bagi-bagi Sembako adalah Pelanggaran Pilkada
MinyaKita sejak awal dirancang sebagai pengganti minyak goreng curah di pasar tradisional agar lebih higienis.
You might be interested :
Mabes Polri Garap Produsen Curang MinyaKita, DPR Minta Ditindak Tegas
Dalam perkembangannya, produk ini dikonsumsi luas hingga ritel modern sehingga menekan ketersediaan di pasar rakyat.
“Sudah ketemu sebabnya kenapa naik. Karena ada bantuan pangan 33 juta penerima, dua bulan, masing-masing dua liter. Itu jumlahnya sangat besar,” kata Zulhas dalam rapat koordinasi di Grha Mandiri, Jakarta dikutip Kamis, 23 April 2026.
Program bantuan pangan menjangkau sekitar 33 juta penerima dengan alokasi dua liter per bulan selama dua bulan.
Volume tersebut menyerap pasokan yang sebelumnya beredar di pasar tradisional sehingga ketersediaan berkurang dan harga terdorong naik.
Akibat melonjaknya harga, Pemerintah menambah suplai sekaligus mengubah skema penyaluran bantuan pangan.
Bantuan berikutnya tidak lagi bergantung pada MinyaKita, melainkan dapat menggunakan berbagai merek dengan harga yang disepakati bersama produsen.
“Ke depan bantuan pangan akan menggunakan merek apa saja dengan harga yang sama. Produsen akan kita minta mendukung sehingga MinyaKita tidak terganggu di pasar,” jelas Zulhas.
Ketua Umum DPP PAN itu menjelaskan, MinyaKita akan dikembalikan ke fungsi awal sebagai minyak goreng untuk pasar tradisional.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso di acara itu menyampaikan pemerintah membuka kemungkinan evaluasi harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita yang saat ini Rp15.700 per liter.
“Sudah berjalan lebih dari tiga tahun, tentu perlu kita lihat dan sesuaikan,” kata Budi sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Republika.
Keputusan terkait HET masih dalam pembahasan lintas kementerian. Pemerintah juga mengevaluasi distribusi domestik minyak goreng, termasuk porsi penyaluran ke dalam negeri oleh produsen.
Sementara itu, Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy mengatakan, kenaikan harga tidak dapat dijelaskan dari sisi pasokan. Ketersediaan bahan baku crude palm oil (CPO) domestik tercatat mencapai 5,7 juta ton.
“Produksi cukup, bahan baku aman. Jadi kalau harga naik, itu bukan soal pasokan, melainkan distribusi yang tidak terkendali,” jelas Edhy.