
UPdtaes—Demonstrasi besar yang membanjiri jalan-jalan di ibu kota negara Iran dan kota terbesar kedua hingga Minggu, melewati dua minggu sejak kekerasan seputar demonstrasi tersebut menewaskan sedikitnya 116 orang, kata para aktivis.
You may also like :
Perang Gaza belum Berakhir, Serangan Israel Tewaskan 104 Warga Palestina
Dengan internet mati di Iran dan saluran telepon terputus, mengukur demonstrasi dari luar negeri menjadi lebih sulit.
You might be interested :
Unggahan "8647" Eks Direktur FBI, Trump: Itu Berarti Pembunuhan
Namun, jumlah korban tewas dalam protes telah meningkat, sementara 2.600 lainnya telah ditahan, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS.
Sementara itu, ketua parlemen Iran, Qalibaf memperingatkan militer AS dan Israel akan menjadi sasaran yang sah jika Amerika menyerang Republik Islam, seperti yang diancam oleh Presiden Donald Trump.
Qalibaf menyampaikan ancaman tersebut ketika para anggota parlemen bergegas ke podium di parlemen Iran, berteriak: "Matilah Amerika!"
Mereka yang berada di luar negeri khawatir pemadaman informasi akan mendorong kelompok garis keras di dalam dinas keamanan Iran untuk melancarkan penindakan berdarah, meskipun ada peringatan dari Trump bahwa ia bersedia menyerang Republik Islam untuk melindungi para demonstran yang menurutnya melakukan aksi damai.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari NRP, Minggu, 11 Januari 2026, Trump menawarkan dukungan kepada para demonstran dalam pernyataan di media sosial.
"Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!" tulis Trump.
The New York Times dan Wall Street Journal, mengutip pejabat AS anonim, mengatakan pada Sabtu malam bahwa Trump telah diberi opsi militer untuk menyerang Iran, tetapi belum membuat keputusan akhir.
Departemen Luar Negeri secara terpisah memperingatkan: "Jangan bermain-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia bersungguh-sungguh."
Aksi Unjuk Rasa Parlemen
Televisi pemerintah Iran menyiarkan sesi parlemen secara langsung. Qalibaf, seorang garis keras yang pernah mencalonkan diri sebagai presiden di masa lalu, memberikan pidato yang memuji polisi dan Garda Revolusi paramiliter Iran, khususnya Basij yang semuanya sukarelawan, karena menurutnya sudah berdiri teguh selama protes.
"Rakyat Iran harus tahu bahwa kami akan menindak mereka dengan cara yang paling keras dan menghukum mereka yang ditangkap," kata Qalibaf.
Ia kemudian secara langsung mengancam Israel yang ia sebut sebagai wilayah pendudukan dan militer AS, kemungkinan dengan serangan pendahuluan.
"Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah pendudukan maupun semua pusat, pangkalan, dan kapal militer Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami," kata Qalibaf.
"Kami tidak menganggap diri kami terbatas pada reaksi setelah kejadian dan akan bertindak berdasarkan tanda-tanda ancaman objektif apa pun," lanjutnya.
Masih belum jelas seberapa serius Iran dalam melancarkan serangan, terutama setelah perang 12 hari pada bulan Juni dengan Israel.
Keputusan untuk berperang akan bergantung pada Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei.
Militer AS sementara itu menyatakan di Timur Tengah bahwa mereka bersiap dengan kekuatan yang mencakup seluruh kemampuan tempur untuk membela pasukan, mitra dan sekutu mereka, serta kepentingan AS.
Israel Siaga Tinggi
Israel berada dalam siaga tinggi untuk kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran menurut tiga sumber Israel yang mengetahui masalah tersebut.
Sumber-sumber tersebut, yang hadir dalam konsultasi keamanan Israel selama akhir pekan, tidak menjelaskan apa arti siaga tinggi Israel dalam praktiknya.
Dalam percakapan telepon pada hari Sabtu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi AS di Iran, menurut sumber Israel yang hadir dalam percakapan tersebut.
Seorang pejabat AS membenarkan bahwa kedua pria itu berbicara tetapi tidak menyebutkan topik apa yang mereka bahas.
Dalam sebuah wawancara dengan The Economist yang diterbitkan pada hari Jumat, Netanyahu sebagaimana dilansir dari TRT World mengatakan akan ada konsekuensi mengerikan bagi Iran jika mereka menyerang Israel.
“Untuk hal-hal lain, saya pikir kita harus melihat apa yang terjadi di dalam Iran,” kata Netanyahu.