
UPdates—Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa pasukan negara itu dapat berperang sengit selama enam bulan melawan Amerika Serikat dan Israel, yang mengatakan telah menyerang komandan Teheran di sebuah hotel tepi laut di jantung Beirut.
You may also like :
Trump Sebut Rusia Macan Kertas, Putin: Kalau Begitu, Hadapi Saja Macan Kertas Ini
Juru bicara Garda, Ali Mohammad Naini, mengatakan Iran sejauh ini telah menggunakan rudal "generasi pertama dan kedua", tetapi akan menggunakan "rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan" dalam beberapa hari mendatang.
You might be interested :
Harga Rp1,1 Triliun, 2 Jet Tempur Super Canggih Israel Rontok, Iran Tangkap Pilotnya
Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, juga mengingatkan bahwa pemerintahan Donald Trump berusaha meniru skenario yang mirip dengan Venezuela di mana mereka menculik pemimpin Nicolas Maduro. Namun, mereka keliru soal Iran.
"Persepsi mereka adalah bahwa itu akan seperti Venezuela—mereka akan menyerang, mengambil kendali, dan semuanya akan berakhir—tetapi sekarang mereka terjebak," katanya dalam wawancara yang direkam sebelumnya dan disiarkan di televisi pemerintah pada hari Sabtu waktu setempat.
Kepala peradilan garis keras Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei sementara itu memperingatkan negara-negara tetangga di Timur Tengah yang menurutnya secara terbuka dan diam-diam berada di bawah kendali AS bahwa serangan berat terhadap target-target di wilayah mereka akan terus berlanjut.
Teheran telah bersumpah untuk menyerang aset-aset AS di kawasan tersebut, dan Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait pada hari Minggu semuanya melaporkan serangan baru.
Arab Saudi mengatakan telah mencegat lebih dari selusin drone, sementara Qatar mengatakan Iran menembakkan dua rudal jelajah dan 10 rudal balistik ke negara itu pada hari Sabtu.
Pasukan UEA juga mencegat rudal dan drone yang datang dari Iran sebagaimana unggahan kementerian pertahanan di X.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan pernyataannya sebelumnya disalahartikan oleh AS dan Israel yang berupaya menabur perpecahan dengan negara-negara tetangga.
Penegasan itu dilaporkan televisi pemerintah pada hari Minggu, setelah Pezeshkian minta maaf dan berjanji tidak lagi menyerang negara-negara Teluk sementara serangan ternyata tidak berhenti.
"Telah berulang kali dikatakan bahwa kita bersaudara dan harus memiliki hubungan baik dengan negara-negara tetangga. Namun, kita terpaksa membalas serangan tetapi ini tidak berarti kita memiliki perselisihan dengan negara (tetangga) atau ingin membuat marah rakyat mereka," kata Pezeshkian.