
UPdates—Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pada hari Jumat, 3 April 2026 bahwa mereka telah menembak jatuh jet tempur F-35 AS di bagian tengah negara itu.
You may also like :
Ngeri, Heli Presiden Rusia di Pusat Pertempuran saat Serangan Besar-besaran Ukraina
Karena hancurnya pesawat, nasib pilot masih belum diketahui, lapor kantor berita semi-resmi Tasnim, mengutip pernyataan dari IRGC sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu.
You might be interested :
Sejarah Hari Ini, 11 Oktober: Hari Revolusi Islam di Iran
Ini menandai kali kedua Iran mengklaim telah menembak jatuh F-35 AS di tengah eskalasi yang sedang berlangsung sejak 28 Februari.
AS belum menanggapi laporan tersebut.
Iran sebelumnya telah mengumumkan pada 19 Maret bahwa mereka telah menembak jatuh F-35 AS, klaim yang ditolak oleh Washington.
Teheran juga mengklaim pada hari Kamis telah menembak jatuh jet F-16 Israel.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump memberi sinyal bahwa serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur penting di Iran mungkin akan segera terjadi.
"Militer kita, yang terhebat dan terkuat (jauh!) di mana pun di dunia, bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran,” katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Jumat, 3 April 2026.
"Jembatan selanjutnya, lalu Pembangkit Listrik! Kepemimpinan rezim baru tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan dengan cepat!" tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah pidatonya kepada bangsa mengenai Operasi Epic Fury, yang dimulai pada 28 Februari.
"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada," katanya.
Perang besar di kawasan Teluk dipicu serangan mendadak AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.