
UPdates—Sungguh pemandangan yang benar-benar mengerikan di Kalimantan Selatan (Kalsel). Sejumlah video yang direkam warga menunjukkan kondisi jalanan yang nyaris tak terlihat lagi dan sudah tidak memungkinkan untuk berkendara akibat kabut asap yang dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
You may also like :
Janji Prabowo, Buka Kampus Kedokteran dan Teknik Gratis di Seluruh Indonesia
Sebagaimana dipantau Keidenesia.tv dari video yang diunggah akun X @anaphalisaa, sejumlah motor terlihat bertabrakan di jalanan karena jarak pandang sudah sangat terbatas.
You might be interested :
Banjir Bandang Kalsel, Air hingga Atap Rumah, Warga Menangis: Ya Allah....
Ada setidaknya dua peristiwa kecelakaan dalam video yang melibatkan sejumlah motor. Video lainnya memperlihatkan pemandangan horror tebalnya kabut asap di jalanan.
Juga ramai dibagikan warganet, sebuah video memperlihatkan Unit Rajawali Satlantas Polres Tanah Laut, Kalimantan Selatan mengawal ambulans yang membawa pasien darurat menuju RSUD Ulin Banjarmasin pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Polisi dalam video itu menyebut kondisi jalan sangat sulit terlihat saat pengawalan berlangsung."Ini ngawal ambulans, tidak terlihat sama sekali," ujar polisi dalam video tersebut.
Disebutkan dalam video itu bahwa jarak pandang hanya 2 meter akibat kabut asap. Akibatnya, kekendaraan harus bergerak pelan karena kondisi sangat berbahaya.
Di Kalsel, wilayah yang terdampak kabut asap tebal termasuk Hulu Sungai Selatan, Sungai Sipai, Martapura, Banjar, Anjir Muara, Barito Kuala, serta beberapa wilayah lainnya.
Terkait karhutla yang sudah berbulan-bulan dan terus berulang di sejumlah wilayah di Indonesia, Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pengendaliannya.
Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat data pemantauan satelit menunjukkan lonjakan drastis luas lahan terbakar di Indonesia.
Berdasarkan data satelit terkini, akumulasi luas lahan yang terbakar meroket dari 895.650 hektar pada Agustus hingga menembus 1,92 juta hektar pada akhir September 2026. Lonjakan area terbakar yang mencapai dua kali lipat dalam sebulan tersebut bahkan telah melampaui catatan krisis karhutla pada periode yang sama pada 2019.
"Pemerintah jangan terus bergerak ketika api sudah membesar. Wilayah rawan dan potensi kekeringan bisa dipetakan sejak awal. Jika potensi kebakaran tidak diantisipasi dengan langkah nyata, kita akan terus mengulang pola yang sama: kebakaran terjadi, anggaran terserap, sementara hutan rusak dan masyarakat menanggung kerugian kesehatan serta ekonomi," tegas Ateng dalam keterangan tertulisnya di Jakarta sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website resmi DPR RI, Kamis, 22 Oktober 2026.
Ateng menilai indikasi kegagalan sistematis ini tercermin dari data SiPongi Kementerian Kehutanan yang mencatat kenaikan luas areal karhutla hingga 69 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, penambahan personel Polisi Kehutanan (Polhut) di lapangan tidak akan pernah cukup jika tidak diimbangi dengan penguatan pencegahan, sistem deteksi dini, kecukupan peralatan modern, serta dukungan anggaran operasional yang terintegrasi.
Ia memperingatkan bahwa dampak buruk dari kelengahan penanganan karhutla sangat nyata dan merugikan masyarakat luas, mulai dari ribuan warga terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), polusi asap lintas batas (cross-border haze), hingga terganggunya lebih dari 2.600 penerbangan domestik akibat memburuknya jarak pandang.