
UPdates—Seorang juru bicara militer Iran secara terbuka mengejek upaya AS untuk menengahi gencatan senjata, menimbulkan keraguan baru atas rencana perdamaian 15 poin yang diusulkan Washington.
You may also like :
Media Pemerintah Iran Mengkonfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Wafat
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, berbicara di televisi pemerintah pada hari Rabu, menolak klaim Presiden AS, Donald Trump bahwa diskusi sedang berlangsung.
You might be interested :
Iran Siap Perang 6 Bulan dan akan Mulai Gunakan Senjata Canggih
Ia menegaskan, Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran, yang mengkomandoi baik militer reguler maupun Garda Revolusi paramiliter saat ini tidak sedang melakukan pembicaraan dengan AS.
“Apakah konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri sendiri?” kata Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas besar tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari AP, Rabu, 25 Maret 2026.
Menurutnya, Iran tidak akan pernah berdamai dengan seseorang seperti Trump.
“Kata pertama dan terakhir kami tetap sama sejak hari pertama, dan akan tetap seperti itu: Seseorang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan seseorang seperti Anda. Tidak sekarang, tidak pernah,” tegas Zolfaghari dalam pernyataan video yang ditayangkan di televisi pemerintah.
Dalam video lainnya yang dipantau Keidenesia.tv, juru bicara IRGC itu juga meledek Donald Trump.
“Hei Trump, kau dipecat! Kau sudah familiar dengan ungkapan itu. Terima kasih atas perhatianmu dalam masalah ini,” katanya dalam bahasa Inggris.
Keberanian Zolfaghari dianggap sangat mencolok, mengingat Israel sebelumnya telah membunuh juru bicara IRGC Jenderal Naeini.
Sementara itu, Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengklaim bahwa Donald Trump sedang mencari jalan keluar dari konflik dengan Iran setelah gagal mencapai tujuannya.
“Setelah menyadari realita di lapangan dan gagal mencapai tujuannya, Trump beralih ke para pemimpin beberapa negara untuk melepaskan diri dari perang,” kata Abdollahi, menurut laporan media Iran sebagaimana dilansir dari MEMO.
Ia menggambarkan perkembangan ini sebagai “sumber kebanggaan bagi rakyat Iran,” menegaskan bahwa respons Iran telah memaksa Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali posisinya.
Abdollahi juga mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Israel awalnya bertujuan untuk menggulingkan Iran dalam waktu 48 jam, termasuk rencana untuk menargetkan tokoh-tokoh kepemimpinan senior, tetapi mengatakan upaya ini digagalkan oleh perlawanan Iran.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan yang saling bertentangan mengenai kemungkinan kontak antara Washington dan Teheran.
Pada hari Senin, Trump mengatakan bahwa ia telah mengadakan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Iran selama dua hari sebelumnya — sebuah klaim yang kemudian dibantah oleh para pejabat Iran.
Trump juga mengumumkan penundaan lima hari dalam serangan yang direncanakan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, yang dijadwalkan pada hari Selasa, menambah spekulasi tentang potensi penyesuaian diplomatik atau strategis.