
UPdates—Langit di atas Bandara Sisingamangaraja XII, Silangit, Tapanuli Tengah, pada Sabtu, 29 November 2025, sore berawan tebal. Sejenak, menghadirkan keraguan.
You may also like :
Operasi SAR di Ponpes Al Khoziny Selesai, Semua Jenazah Telah Ditemukan
Tapi sebuah misi kemanusiaan yang menjadi taruhan sebuah janji harus ditepati kepada warga Desa Sihaporas, salah satu kawasan di Sumatra Utara yang terisolasi akibat bencana hidrometeorologi.
You might be interested :
Serang Warga, 1 Tewas dan Puluhan Luka, 45 Prajurit TNI Diamankan
Misi ini berasal dari mandat Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto. Hanya ini solusi untuk menjangkau komunitas yang terputus dari dunia luar itu.
Bagi para kru, tugas ini adalah pertarungan melawan batas waktu dan alam.
Begitu izin terbang dikantongi, baling-baling helikopter berlogo BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dengan nomor registrasi PK-RTQ perlahan mulai bergerak, memecah keheningan. Lalu, helikopter melesat.
Semua sudah bisa diprediksi sejak awal. Tak butuh waktu lama, penerbangan singkat itu berubah menjadi ujian fisik dan mental.
Di ketinggian jelajah, awan-awan tebal menggumpal liar, menjelma menjadi dinding raksasa yang secara agresif mengepung jalur terbang.
Pilot veteran terpaksa beradu keahlian dengan visibilitas yang nyaris nol. Mereka harus memutar rotor ke segala arah, mencari celah sempit di antara massa uap air yang membeku.
Ini adalah duel udara, di mana setiap detik krusial, dan bahan bakar yang menipis menjadi ancaman operasional yang nyata.
Akan tetapi, tekad untuk mencapai titik nol jauh lebih tebal daripada awan yang mereka hadapi.
Dengan manuver presisi yang berisiko, PK-RTQ akhirnya berhasil lolos, dan di bawah mereka terhampar Desa Sihaporas, terperangkap dalam keheningan hijau.
Tantangan pendaratan menjadi fase paling kritis. Di Sihaporas, tidak ada helipad yang memadai. Opsi menggunakan lapangan terbuka, seperti lapangan sekolah, ditolak keras. Pilot tahu, downwash dari baling-baling raksasa bisa merobohkan atap rumah warga, sebuah ironi yang harus dihindari dalam misi bantuan.
Helikopter berputar, berulang kali, di ambang batas waktu aman pendaratan. Pilihan untuk kembali ke pangkalan mulai membayangi.
Di tengah keharusan mengambil keputusan cepat; pulang atau melanjutkan misi, mata pilot menangkap satu titik ganjil: sebidang kerikil basah yang membentang di tepi Aek Sihaporas, sungai setempat.
Itu adalah keputusan operasional di ujung tanduk; sebuah prosedur pendaratan non-standar yang belum pernah dilakukan di medan nyata.
Komunikasi di kokpit terjalin singkat, namun menentukan.
“Pernah dilatih pendaratan di tepi air?" tanya pilot senior, dengan nada profesional yang tenang sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website BNPB, Minggu, 30 November 2025.
"Siap, Capt. Prosedur dilatih dan berhasil. Kami siap."
"Oke good. Mari turunkan perlahan, di kerikil basah itu.”
Dengan keahlian yang menipu ketenangan, helikopter menukik tajam. Baling-balingnya menciptakan angin kencang yang menyapu permukaan sungai. Skid helikopter mendarat sunyi, perlahan menyentuh batu-batu kerikil yang dingin.
Mesin tak berhenti, kru bergerak cepat. Kotak-kotak jingga berisi logistik BNPB seperti makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya diturunkan. Ditumpuk di pinggiran sungai.
Itu adalah tumpukan harapan yang baru dikirimkan dari langit. Dibawa oleh orang-orang bernyali yang tidurnya tak pernah tenang memikirkan saudara-saudaranya yang sedang khawatir dan terisolasi.
Tak lama, warga Sihaporas berdatangan. Wajah mereka memancarkan kelegaan yang tak terlukiskan. Mereka mendekat, menyentuh bungkusan bantuan yang menjadi garis hidup mereka.
Di antara kerumunan, terlihat mata anak-anak yang memandang helikopter itu dengan takjub, seperti melihat utusan dari dunia yang hilang.
Melihat tatapan polos itu, segala ketegangan dan lelah yang dirasakan kru seketika terbayar lunas.
Saat rona senja memerah, helikopter PK-RTQ meninggalkan Aek Sihaporas. Dari udara, pilot menyaksikan pemandangan gotong royong warga memindahkan bantuan ke tempat aman.
Pemandangan itu, yang menunjukkan resilience sejati masyarakat, menjadi penutup yang menghangatkan bagi misi tersebut.
Kisah keberanian dan adaptasi operasional ini tercatat sebagai salah satu catatan keberhasilan misi krusial BNPB dalam menghadapi tantangan geografis ekstrem.
Misi telah selesai. Dan terbukti, ketika bencana memutus seluruh akses darat, jalur udara yang diisi kepedulian akan selalu menjadi tali penghubung terakhir yang tak pernah putus.