
UPdates - Di era media sosial saat ini, ajakan berdakwah tersebar luas, melalui video, tulisan, atau konten ilmiah. Tapi yang tak kalah penting adalah cara menyampaikannya. Dakwah yang disampaikan dengan metode yang salah bisa gagal mencapai tujuan, bahkan pesan yang seharusnya membimbing bisa terasa seperti cambuk yang menyakitkan hati.
You may also like :
Gegara Gus Miftah, DPR Ingin Model Dakwah Diatur Ulang Kemenag
Semangat berdakwah memang hal yang sangat baik, tapi cara menyampaikannya sama pentingnya. Terutama ketika kita ingin memberikan nasihat atau mengajak orang memperbaiki diri dari kesalahan, metode yang lembut dan penuh empati menjadi kunci.
You might be interested :
Kisah Islami: Juhainah, Manusia Terakhir yang Keluar dari Neraka
Ingat, manusia secara alami sulit menerima kritik atau nasihat, jadi cara menyampaikan pesan akan menentukan apakah ia diterima dengan baik atau malah menimbulkan rasa tersinggung.
Dengan pendekatan yang bijak, dakwah bukan hanya sampai ke telinga, tapi juga menyentuh hati. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad menjelaskan pentingnya berdakwah dengan sejuk dan bijak:
النصيحة سهل ، والمشكل قبولها ، لأنها في مذاق متعي الهوى مر إذ المناهي محبوبة في قلوبهم
Artinya: "Memberi nasihat mudah. Yang sulit itu menerimanya. Sebab, bagi orang yang menuruti hawa nafsunya nasihat itu terasa pahit. (Sebaliknya), hal-hal yang dilarang hati mereka menyenanginya." (Abu Hamid Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2014], hal. 38).
Lebih jauh, sejatinya agama Islam menempatkan nasihat sebagai salah satu pilar dan nilai luhur yang seharusnya menjadi nafas setiap pemeluknya.
Namun, memberi nasihat bukan sekadar menyampaikan kata-kata; cara atau metode penyampaiannya sangat menentukan apakah pesan itu diterima dengan baik.
Dalam konteks dakwah atau menasihati, metode yang bijak dan penuh kesantunan menjadi kunci. Sebagai pengingat, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini patut kita simak dan renungkan, Nabi bersabda:
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّينُ النَّصِيحَة قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya, “Diriwayatkan dari Tamim Ad-Dari, diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda: ‘Agama adalah nasihat.’ Kami bertanya: ‘Kepada siapa?’ Rasulullah menjawab: ‘Kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam, dan kaum awam mereka’.” (HR. Imam Muslim).
Berkaitan dengan hadits ini dan cara bijak menasihati tanpa menyinggung hati perasaan yang dinasihati. Artinya, nasihat bukan hanya soal iman kita kepada Allah, mengikuti kitab suci yang Allah turunkan, atau meneladani para Rasul.
Nasihat juga berlaku untuk hubungan sosial,kepada para pemimpin, kita menasihati dengan membantu menegakkan kebenaran; kepada masyarakat umum, kita menuntun mereka ke jalan yang diridhai Allah.
Tapi penting diingat: cara menyampaikan nasihat itu kunci. Menasihati dengan marah atau menekan hati orang lain justru bisa menutup pintu penerimaan. Sebaliknya, dengan keramahan, kelembutan, dan cara yang menyenangkan, nasihat lebih mudah diterima, menyentuh hati, dan berpotensi diikuti. Jadi, dakwah atau menasihati bukan hanya soal apa yang kita katakan, tapi bagaimana kita menyampaikannya.
Lebih jauh, Syekh Muhammad bin Abdullah dalam kitabAl-Jawahirul Lu'lu'iyyah fi Syarhil Arba'in An-Nawawiyyah, menjelaskan pentingnya menasehati dengan bijak dan lembut. Ia berkata;
ويطلب كون النصيحة برفق لتكون أقرب للقبول، ومن ثم كان السلف الصالح إذا أرادوا نصيحة أحد وعظوه سرا.
Artinya: "Nasihat tersebut hendaknya dilakukan dengan pelan-pelan (ramah dan sopan) supaya potensi diterimanya lebih dekat (lebih besar). Dengan alasan inilah, para ulama salaf-shaleh ketika ingin menasihati seseorang, mereka menasihati secara samar (tidak terang-terangnya).” (Syekh Muhammad bin Abdullah bin Abdul Lathif al-Jurdani,Al-Jawahirul Lu'lu'iyyah fi Syarhil Arba'in An-Nawawiyyah, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2022], hal. 178).
Kisah Cucu Nabi Menasihati Tanpa Menyakiti Hati
Setelah Syekh Muhammad al-Jurdani menjelaskan metode bijak dalam menasihati, kemudian menceritakan sebuah kisah yang menunjukkan bagaimana cara menasihati tanpa terkesan menggurui dan sama sekali tidak menyakiti hati orang yang dinasihati.
Suatu ketika, dua cucu tercinta Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Hasan dan Husain, menemui seorang kakek yang sedang berwudhu. Namun, cara berwudhunya ternyata keliru. Salah satu dari mereka akhirnya berkata dengan lembut.
تعال نرشد هذا الشيخ
Artinya: “Mari kita beri bimbingan kakek ini!”
Maka salah satu dari beliau berkata kepada kakek tersebut,
يا شيخ إنا نريد أن تتوضاً بين يديك حتى تنظر إلينا، وتعلم من يحسن منا الوضوء ومن لا يحسنه
Artinya: “Wahai, Kakek! Kami ingin berwudhu di hadapanmu agar kamu melihatnya dan kamu mengetahui wudhu siapa yang bagus dan tidak bagus di antara kami berdua.”
Lalu, kedua cucu Nabi berwudhu di hadapan si kakek dengan cara yang benar sesuai tuntunan. Setelah keduanya selesai, si kakek menatap mereka dan berkata dengan penuh rasa hormat dan keheranan;
أنا والله الذي لا أحسن الوضوء وأما أنتما فكل واحد منكما يحسن وضوءه.
Artinya: “Demi Allah, saya yang wudhunya tidak bagus. Sedangkan kalian berdua wudhunya sama-sama bagus.”
Mengomentari kisah ini, Syekh Muhammad al-Jurdani berkata,
فانتفع بذلك منهما من غير تعنيف ولا توبيخ
Artinya: “Maka dengan metode dari Sayyidina Hasan dan Husain itu, nasihat tersebut bermanfaat bagi si kakek tanpa ada unsur celaan dan menjelekkan.” (Syekh Al-Jurdani,hal. 179).
Kisah ini mengingatkan kita bahwa menasihati dan berdakwah tidak mengenal usia atau kedudukan. Jika memang ada yang perlu dinasihati, termasuk yang lebih tua, kita tetap harus melakukannya dengan cara yang bijak.
Teladan Nabi, para sahabat, dan ulama terdahulu menunjukkan bahwa nasihat paling efektif disampaikan dengan kesejukan dan kelembutan, tanpa menyinggung perasaan, seperti yang terlihat dari kisah Sayyidina Hasan dan Husain.
Dari kisah ini juga kita belajar bahwa menasihati dengan memberi contoh atau teladan langsung adalah metode yang sangat efektif. Cara ini tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga menenangkan hati orang yang dinasihati, sehingga lebih mudah diterima.
Dengan memadukan semangat berdakwah, memberi teladan, dan menggunakan metode yang bijak, minimal tidak menyinggung perasaan, konten dakwah, baik berupa video maupun tulisan, memiliki peluang besar untuk menembus “dinding” tabiat yang biasanya sulit ditembus oleh nasihat, sebagaimana diuraikan oleh Imam Al-Ghazali. Wallahu a'lam.
*Penulis: Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pegiat Literasi Keislaman (Tulisan ini dilansir Keidenesia.TV dari laman NU Online)