
UPdates—Sebuah kolom yang diterbitkan di surat kabar Israel menyarankan agar AS menghapus utang anak muda Amerika jika mereka bersedia bergabung dalam invasi ke Iran.
You may also like :
Bantah Target Putra Trump, Kepala Keamanan Iran: Kami Akan Kirim Netanyahu ke Neraka
Penulis berpendapat bahwa perang AS melawan Iran tidak dapat dimenangkan hanya melalui serangan udara, melainkan memerlukan pendudukan atau penguasaan wilayah negara tersebut, yang menuntut mobilisasi hingga 1,5 juta tentara.
You might be interested :
Pentagon: Ada 757 Laporan Penampakan UFO Baru di Amerika
Usulan mengejutkan untuk menjadikan anak muda Amerika yang terlilit utang sebagai "umpan meriam" dalam perang melawan Iran ini disampaikan oleh AJ Jaff, seorang pensiunan perwira Angkatan Bersenjata Kanada, dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh Jerusalem Post.
Dalam argumennya, Jaff menyatakan bahwa serangan intensif AS selama berbulan-bulan tidak berhasil melumpuhkan kemampuan militer Iran maupun mengakhiri perang, dan bahwa invasi darat akan membutuhkan jauh lebih banyak tentara Amerika dibandingkan kekuatan saat ini.
"Angka perekrutan saat ini berada di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk invasi darat ke Iran. Perkiraan untuk keberhasilan operasi darat melawan 31 komando provinsi Iran dan Doktrin Pertahanan 'Mosaic'-nya berkisar antara 750.000 hingga 1,5 juta tentara Amerika. Jumlah personel aktif Angkatan Darat AS saat ini hanya sekitar 452 ribu. Jelas, hitungannya tidak masuk akal," tulis penulis tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari TRT World, Jumat, 4 September 2026.
Jaff berpendapat bahwa sejarah AS menunjukkan jalan keluar yang layak: perekrutan melalui program penghapusan utang, bukan melalui wajib militer tradisional masa perang.
"Rata-rata warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun menanggung utang non-hipotek (di luar kredit rumah) lebih dari 40.000 dolar AS, yang mencakup pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, kredit kendaraan, dan pinjaman pribadi; bahkan beberapa perkiraan menyebut angka hingga 100.000 dolar AS," tulisnya.
Menurutnya, kelompok inilah yang dibutuhkan Pentagon. "Program pendaftaran militer berbasis penghapusan utang yang dikelola pemerintah federal—yang melunasi sepenuhnya pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, dan saldo pinjaman lainnya setelah masa tugas 24 atau 36 bulan, serta memperluas cakupan GI Bill (tunjangan veteran)—akan menghasilkan pendaftaran sukarela dalam skala besar," argumen kolumnis tersebut.
Sekitar 77 persen warga Amerika memiliki utang dalam bentuk tertentu. Hal ini mencakup sekitar 250 hingga 260 juta individu yang menghadapi berbagai jenis kewajiban keuangan, yang berkontribusi pada rekor total utang rumah tangga AS sebesar $18,8 triliun. Rata-rata utang orang dewasa di AS mencapai $63.500.
Jaff merujuk pada preseden AS terkait skema perekrutan semacam itu, dengan mencatat bahwa Perang Dunia II memperkenalkan GI Bill, sementara Perang Vietnam menawarkan penangguhan wajib militer bagi mahasiswa.
"Perang pasca-9/11 menawarkan bonus perekrutan dan jalur kewarganegaraan. Perang melawan Iran perlu menawarkan keringanan utang. Kondisi ekonomi warga Amerika berusia 20-an dan 30-an yang terlilit utang menjadikan hal ini sebagai mekanisme konversi paling efisien yang tersedia bagi Pentagon dan pemerintahan Trump," tegas penulis tersebut.
Ia menyebut skema ini secara moral tidak nyaman, namun juga menggambarkannya sebagai mekanisme konversi paling efisien bagi Pentagon dan pemerintahan Trump, dengan argumen bahwa negara-negara melakukan perekrutan dengan menyesuaikan insentif bagi populasi spesifik mereka.
Tulisan Jaff menyajikan skema yang mencemaskan ini sebagai salah satu dari tiga opsi non-kinetik bagi Washington untuk mengalahkan Iran, di samping pengakuan Kongres AS atas kemerdekaan kelompok minoritas Iran dan kesepakatan dengan Tiongkok terkait minyak Iran.
Artikel tersebut memicu kritik luas. Banyak pihak menganggap usulan itu cacat dari sudut pandang AS, pihak lain mempertanyakan kompetensi penulisnya, dan sebagian berpendapat bahwa Israel ingin memerangi Iran "hingga orang Amerika terakhir".
Media berita seperti The Blaze menggambarkan usulan tersebut sebagai eksploitasi yang tidak pantas atau sinis terhadap kondisi utang warga Amerika. Media itu menyebut rencana Jaff sebagai saran yang tidak masuk akal untuk mengirim kaum muda Amerika yang terlilit utang ke garis depan pertempuran.
Mises Institute memberi judul catatannya 'The Jerusalem Post Calls for More Americans to Enlist – to Die for Israel' (The Jerusalem Post Menyerukan Lebih Banyak Warga Amerika untuk Mendaftar Militer – demi Mati untuk Israel), yang menggambarkan tulisan tersebut sebagai seruan dari media berita Israel agar pembayar pajak AS menyubsidi perang lainnya.