
UPdates—Keuletan tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, dan instansi terkait dalam pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di Puncak Gunung Bulusaraung, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep benar-benar diuji.
You may also like :
Bibit Siklon 96S, BMKG: Waspada Hujan Lebat hingga Malam Nanti
Keberanian, dedikasi, dan semangat kemanusiaan yang tak tergoyahkan harus mereka tunjukkan di tengah medan terjal dan cuaca yang tidak menentu bahkan cenderung ekstrem.
You might be interested :
Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Hancur, Puing Berserakan di Gunung Bulusaraung
Pangdam XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal TNI Bangun Nawoko menggambarkan bagaimana beratnya perjuangan tim SAR gabungan saat menyampaikan keberhasilan mereka menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki.
Pangdam menyampaikan bahwa proses evakuasi menghadapi tantangan berat karena lokasi berada di ketinggian dengan kontur ekstrem. Bahkan, personel harus melakukan teknik rappelling di area yang sulit dijangkau.
"Ini butuh effort yang cukup keras karena memang kondisinya luar biasa, personel kita tadi sudah pada posisi di puncaknya di 1.353 MDPL bahkan kita tadi sampai melaksanakan rappelling di bawah sana langsung tidak kelihatan personel, itulah perjuangan teman-teman SAR kita yang berjuang untuk melaksanakan evakuasi," jelas Pangdam sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Instagram Kodam Hasanuddin, Minggu, 18 Januari 2026.
Makanya, ia sangat mengapresiasi tim SAR gabungan dan menekankan agar memperhatikan faktor keamanan. “Tetap perhatikan faktor keamanan. Safety first,” ujarnya dalam video saat ia berkomunikasi dengan tim.
Sementara itu, Komisi V menyoroti pengawasan kelaikudaraan pesawat di Indonesia, khususnya armada dengan usia operasional panjang.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, meminta Kementerian Perhubungan segera melakukan investigasi awal untuk memastikan kondisi pemeliharaan pesawat sebelum insiden terjadi.
Politikus PKB itu menegaskan, pesawat buatan tahun 2000 tersebut perlu diperiksa secara menyeluruh sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan nasional.
“Kami meminta Kemenhub mendampingi KNKT melakukan pengecekan terhadap aspek maintenance dan kelaikudaraan pesawat. Ini penting agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Huda dalam keterangan tertulis sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari situs resmi DPR RI.
“Kami juga meminta agar Kemenhub segera menerjunkan tim investigasi awal untuk mendampingi KNKT dalam memeriksa pemeliharaan pesawat (maintenance) dan kelaikudaraan PK-THT, mengingat pesawat tersebut merupakan buatan tahun 2000 atau sudah berusia 26 tahun,” lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa insiden ini menjadi pengingat pahit bagi industri penerbangan nasional mengenai ancaman cuaca ekstrem dan fenomena siklon yang tengah melanda wilayah Indonesia. Apalagi saat ini siklon tropis Nokaen di utara Sulawesi Utara yang bisa memicu cuaca ekstrem di kawasan Indonesia tengah dan timur.
“Insiden ini harus menjadi pengingat keras bagi seluruh penyedia layanan transportasi udara. Di tengah ancaman cuaca ekstrem saat ini, keselamatan penumpang tidak boleh dikompromikan. Tidak boleh ada toleransi terhadap maskapai yang mengabaikan ambang batas cuaca minimum (weather minimal),” tegasnya.