
UPdates—Setelah pihak berwenang Nepal memperbarui data mereka pada hari Sabtu, jumlah total korban di Nepal dan Tibet meningkat menjadi 676 orang tewas dan hampir 3.000 orang hilang.
You may also like :
Terjebak 2 Hari di Terowongan Berlumpur, 350 Pekerja Nepal Selamat, Tim Berjuang Cari 100 Orang Lagi
Pihak berwenang Tiongkok melaporkan tujuh kematian dan lebih dari 550 orang hilang. Sementara badan penanggulangan bencana Nepal menyatakan jumlah korban tewas telah naik menjadi 669 orang dengan 2.426 orang hilang.
You might be interested :
Korban Meninggal Gempa NTT 111 Orang, Sudah 9.278 Gempa Susulan
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari NBC Montana, Minggu, 30 Agustus 2026, sejauh ini, lebih dari 3.700 orang telah diselamatkan di Nepal.
Tim penyelamat terus melakukan upaya pencarian korban yang berat—di mana banyak korban terkubur di bawah lapisan lumpur setebal beberapa meter—sementara Tiongkok dan Nepal sama-sama mengeluarkan peringatan banjir baru.
Tim pencari telah berjuang menembus lumpur, puing-puing, dan medan yang tidak stabil untuk menemukan korban selamat serta mengevakuasi korban.
Kondisi lapangan yang sulit memperlambat upaya tersebut, sehingga tim penyelamat terpaksa mengandalkan helikopter dan bantuan udara lainnya untuk menjangkau masyarakat yang terisolasi akibat jalan-jalan yang hanyut diterjang banjir.
Pejabat setempat menyatakan bahwa korban hilang mencakup penduduk lokal, pekerja, dan wisatawan asing yang sedang melintasi wilayah tersebut, termasuk warga negara Amerika.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, sekitar 90 warga Amerika termasuk di antara mereka yang belum diketahui keberadaannya.
Keluarga para korban telah berkumpul di lokasi bantuan dan rumah sakit untuk mencari informasi mengenai kerabat mereka yang hanyut atau terjebak akibat banjir.
Situasi darurat ini juga merusak infrastruktur yang diperlukan untuk pemulihan jangka panjang, termasuk jalur transportasi dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
Pihak berwenang menghadapi tantangan tambahan dalam menilai kondisi di wilayah dataran tinggi, di mana risiko tanah longsor dan banjir susulan masih mungkin terjadi.
Bencana ini melanda wilayah dekat perbatasan Nepal dengan Tiongkok pada awal pekan ini; arus air yang deras serta material puing menerjang permukiman, merusak jalan dan jembatan, serta memutus akses ke daerah-daerah yang biasanya hanya dapat dicapai melalui jalur pegunungan yang sempit.
Pihak berwenang menyatakan bahwa banjir bandang tersebut dipicu oleh runtuhnya massa es, lumpur, dan batu ke dalam sungai di pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tiongkok.
Bencana ini mendorong Nepal untuk mencari bantuan dari pihak luar sementara tim penyelamat terus melakukan upaya penyelamatan.