Ilustrasi (foto:Dok.KorlantasPolri)

Korlantas Polri Tegaskan Tilang Manual Bersifat Situasional

2 April 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Korlantas Polri memberikan izin untuk menerapkan tilang manual dengan porsi terbatas sebesar 5 persen, karena interaksi langsung antara petugas dan pelanggar memiliki dampak psikologis yang kuat.
  • Tilang manual diutamakan untuk pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, seperti melawan arus, dan bertujuan untuk memberikan efek psikologis yang lebih kuat.
  • Menurut Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Brigjen Pol. Faizal, rasa sungkan saat berhadapan langsung dengan petugas dapat menjadi rem psikologis yang efektif bagi masyarakat.
  • Penggunaan teknologi, seperti perangkat ETLE, tetap menjadi prioritas utama Korlantas, terutama untuk memantau titik-titik yang tidak terjangkau oleh kamera ETLE statis.
  • Sulawesi Selatan memiliki jumlah perangkat ETLE handheld terbanyak di luar Pulau Jawa, yaitu 74 unit, dan diharapkan dapat dioptimalkan untuk mendukung keamanan lalu lintas.
  • Korlantas Polri menekankan bahwa tilang manual harus dilakukan tanpa transaksional dan harus diperhatikan terutama di wilayah yang banyak kecelakaan.
  • Dengan kombinasi tilang manual dan teknologi, diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan pengguna jalan dan mengurangi kecelakaan lalu lintas.
atau

UPdates - Dalam upaya memperkuat kedisiplinan pengguna jalan, Korlantas Polri memberikan lampu hijau bagi seluruh jajaran kepolisian daerah untuk tetap menerapkan tilang manual dengan porsi terbatas sebesar 5 persen.

You may also like : 685577 9206Polri Gelar Operasi Patuh 2025 Serentak se-Indonesia, Mulai 14 hingga 27 Juli

Direktur Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korlantas Polri, Brigjen Pol. Faizal, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil karena interaksi langsung antara petugas dan pelanggar memiliki dampak psikologis yang jauh lebih kuat dibandingkan pengawasan sistem elektronik murni.

“Tilang manual boleh, 5 persen itu boleh. Dengan catatan silakan dianalisa, yang paling potensial menimbulkan laka lantas itu hantam (tindak) di situ. Contohnya apa? Lawan arus, hantam (tindak) saja tilang. Karena memang kalau kita bicara dari sisi psikologi, manual itu lebih efektif karena petugas dengan pelanggar ketemu, pasti malu,” tegas Brigjen Pol. Faizal, dilansir Keidenesia.TV dari Humas Polri, Kamis, 2 April 2026.

Menurut jenderal bintang satu tersebut, rasa sungkan saat berhadapan langsung dengan petugas seringkali menjadi rem psikologis yang efektif bagi masyarakat.

Beliau mengibaratkan bahwa jangankan warga sipil, sesama anggota kepolisian pun akan merasa malu jika tertangkap tangan melakukan pelanggaran di jalan raya oleh rekan sejawatnya.

“Jangankan masyarakat biasa, kita saja polisi (kalau) ketemu orang korsa (sesama anggota), kita melanggar, malu kita. Apalagi masyarakat biasa. Nah kalau statistik (ETLE) ini kan tidak ketemu,” tambahnya.

Meski demikian, Brigjen Pol. Faizal memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap menjadi prioritas utama Korlantas.

Sulawesi Selatan sendiri tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kepemilikan perangkat ETLE handheld terbanyak di luar Pulau Jawa dengan total 74 unit.

Ia mendorong agar teknologi canggih ini tetap dioptimalkan untuk memantau titik-titik yang selama ini tidak terjangkau oleh kamera ETLE statis.

“Data yang saya baca di Korlantas, jumlah data perangkat ETLE terbanyak setelah Jawa itu ya Sulsel (Sulawesi Selatan). Handheld-nya ada 74, itu dioptimalkan. Imbangi dengan manual, silakan. Pokoknya yang penting tidak ada transaksional, ini perlu diperhatikan terutama di wilayah yang banyak laka,” pungkasnya.

 

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

russell

Bertrand Russell

"Perang tidak menentukan siapa yang benar, hanya siapa yang tersisa"
Load More >