
UPdates—Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta kepada instansi pemerintah yang memiliki sekolah kedinasan untuk ikut mengirimkan siswanya ke lokasi bencana.
You may also like :
Polisi Temukan 25 Hektare Ladang Ganja di Aceh
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana itu juga menyampaikan sudah mendapat laporan soal kesiapan pengerahan siswa dari sekolah kedinasan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Biro Pusat Statistik (BPS).
You might be interested :
Mendagri Tito Karnavian Resmi Lantik Fadjry Djufry Sebagai Pj Gubernur Sulsel
Menurut Tito, pengerahan siswa maupun pengerahan personel TNI dan Polri dibutuhkan untuk dua aktivitas mendesak yang harus segera dituntaskan yakni pembersihan lumpur di darat dan sungai serta perbaikan akses darat.
"Pembersihan lumpur sangat penting (dituntaskan). Ada dua lokasi yang perlu segera dibersihkan yaitu daratan dan sungai. Di daratan, mulai dari rumah-rumah, toko hingga gang, harus dibersihkan," ujar Mendagri dalam rapat kooordinasi Satgas Pemulihan Bencana di Banda Aceh, Sabtu, 10 Januari 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Info Publik.
Tito menjelaskan, masih ada 15 daerah yang diklasifikasikan belum normal usai banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Belasan daerah yang belum normal itu meliputi tujuh daerah di Aceh, lima daerah di Sumatra Utara dan tiga di Sumatra Barat.
Di Aceh, daerah yang belum normal usai bencana yakni Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.
Sedangkan daerah di Sumut yang belum normal meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Sibolga. Di Provinsi Sumbar, daerah yang belum normal yakni Padang Pariaman, Tanah Datar, dan Agam.
Untuk mempercepat pembersihan lumpur itu, personel di lapangan diusulkan ditambah, bisa dari kepolisian dan TNI, maupun sekolah kedinasan.
"Saya sudah berbicara kepada Pak Kapolri, apakah bisa menambah 5.000 (personel) lagi. Sebelum Nataru, Beliau sudah mengirimkan 1.000 tambahan personel. Saya mengharapkan ini bisa dikerjakan sebelum Ramadan," tegas Tito Karnavian.
"Jadi, harus digenjot (pembersihan lumpur di darat) di time window sekarang. Kan momennya pas. Nataru sudah selesai, sedangkan belum masuk Ramadan," tambahnya.
Permintaan tambahan personel juga disampaikan ke Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Pandjaitan, yakni sebanyak 10 ribu prajurit. "Sebab, kalau hanya dikerahkan 1.000 personel akan tenggelam," kata Tito Karnavian.
Sebelumnya, lanjut Mendagri Tito, 1.200 praja dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sudah diterjunkan ke lokasi bencana.
Selain di darat, pembersihan lumpur juga perlu dilakukan di sungai. Sebab, bila sungai tidak bersih, ketika hujan turun bisa berpotensi banjir susulan.
"Kondisi sungai penuh dengan tumpukan sendimen yang luar biasa banyak dan itu malah mem-blok aliran (air) dari sungai mau ke laut. Akibatnya hujan sedikit saja, maka air akan tumpah ke kanan dan kiri, menimbulkan banjir baru," kata Tito.