
UPdates— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
You may also like :
Dapur MBG Pertama di Bone Diresmikan, Menag Ingin Jadi yang Terbaik se-Indonesia
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menekankan bahwa MBG merupakan program yang lebih mendesak, bahkan dibandingkan penciptaan lapangan pekerjaan.
You might be interested :
40 Siswa Keracunan saat Makan Gratis, Prabowo Panggil Kepala Badan Gizi dan Menteri
“Pada waktu saya ditanya mengapa MBG penting? Apakah MBG itu penting sekali? Apakah MBG lebih penting daripada memberi lapangan kerja? Saya mengatakan, MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” kata Rachmat saat menghadiri agenda Prasasti Economic Forum 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Kamis, 29 Januari 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Republika.co.id.
Program MBG dan penciptaan lapangan pekerjaan kata dia sejatinya merupakan dua program yang sama-sama penting.
Meski begitu, jika dibandingkan, menurut dia, MBG memiliki tingkat urgensi yang lebih tinggi.
“MBG penting, lapangan kerja penting. Tetapi MBG lebih mendesak. Ada yang bilang tolong kasih ‘kail’, jangan ‘ikan’. Kalau dikasih ‘kail’, sudah keburu mati,” ujar Rachmat.
Bappenas menyatakan komitmennya untuk mendukung realisasi MBG secara lebih optimal. Bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Bappenas memperkuat pelaksanaan program MBG melalui kerja sama lintas sektor sebagai bagian dari arah kebijakan dan strategi transformasi sistem pangan dan gizi nasional.
Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program prioritas MBG. Pada 2025, dana yang dialokasikan sebesar Rp71 triliun, dengan realisasi mencapai Rp51,5 triliun atau sekitar 72,5 persen dari pagu anggaran.
Untuk 2026 ini, anggaran MBG meningkat signifikan menjadi Rp335 triliun dengan target penerima mencapai 82,9 juta orang.
Sementara terkait penciptaan lapangan pekerjaan, pemerintah menargetkan 19 juta lapangan kerja sepanjang masa jabatan lima tahun ke depan.
Sejauh ini realisasinya masih terbilang terbatas di tengah berbagai tantangan, baik ketidakpastian global maupun kondisi domestik berupa tren pelemahan daya beli.
