
UPdates—Sungguh menyayat hati. Seorang siswa SD bunuh diri dengan cara gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
You may also like :
Perawat Coba Bunuh Diri di Rel, Masinis yang tak Dikenalnya Turun dan Menikahinya
Bocah malang itu mengakhiri hidupnya diduga karena tidak bisa membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu karena orang tuanya tak punya uang.
You might be interested :
Banjir Bandang Mauponggo NTT: Tiga Orang Meninggal, 4 Hilang, 18 Desa Terisolir
Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar, ditemukan dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh di sekitar pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya.
Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena kondisi keluarganya yang miskin. Ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal hanya bekerja sebagai petani dan kerja serabutan.
Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia. Saat korban meminta uang, sang ibu yang berinisial MGT (47 tahun) tak bisa mengabulkannya lantaran tak memiliki uang saat itu.
Polisi menemukan surat tulisan tangan yang ditujukan korban kepada sang ibu. Surat tersebut ditemukan saat petugas Polres Ngada melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kamis, 29 Januari 2026 siang, tidak jauh dari lokasi korban ditemukan meninggal dunia.
Surat itu ditulis tangan menggunakan bahasa daerah Ngada dan ditujukan kepada ibu korban yang dipanggil “Mama Reti”.
Tulisan tersebut kemudian beredar luas dan viral di media sosial karena berisi pesan perpisahan menyentuh.
Berikut isi surat sang bocah:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Kematian tragis anak itu menyita perhatian publik. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyatakan rasa keprihatinannya dan menegaskan insiden yang dialami bocah tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.
“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul kepada awak media sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari video wawancaranya di X, Rabu, 4 Februari 2026.
Gus Ipul menekankan pentingnya membangun basis data Kementerian Sosial agar menjangkau seluruh keluarga di Indonesia. Termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem (desil-1), dan kategori miskin (desil-2).
“Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan. Ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama,” ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar sementara itu menyebut kasus ini harus menjadi cambuk bagi semua pihak.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin kepada awak media di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa malam tadi.
Ketua Umum PKB itu mengatakan peristiwa nahas ini menjadi pengingat supaya semua pihak membuka diri agar mudah dimintai tolong siapa pun.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Sementara itu, netizen sangat marah dengan kejadian memilukan ini. Mereka mengecam pemerintah yang lalai.
Mereka juga menyoroti program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menghabiskan anggaran yang sangat besar.
“Dosa besar kalian,” ujar salah satu warganet mengomentari video pernyataan Gus Ipul di X sebagaimana dipantau Keidenesia.tv.
