Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna. (Foto: Jaka/Karisma/DPR RI)

Irit BBM, PKS Malah Khawatir WFH Satu Hari Dipakai Liburan ke Luar Kota

27 March 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, meminta pemerintah meninjau ulang wacana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
  • Ateng menilai bahwa target efisiensi 20 persen yang disampaikan pemerintah perlu dikaji lebih mendalam agar tidak meleset dari kondisi riil di lapangan.
  • WFH satu hari belum tentu efektif menurunkan konsumsi BBM karena ada potensi pergeseran aktivitas dari mobilitas kerja menjadi mobilitas non-esensial.
  • Kebijakan WFH juga berpotensi mendorong peningkatan mobilitas ke luar kota jika diterapkan mendekati akhir pekan.
  • Ateng menyoroti potensi dampak ekonomi yang kerap luput dari perhitungan, seperti berkurangnya aktivitas perkantoran yang dapat menekan pendapatan pelaku usaha kecil.
  • Biaya operasional tidak benar-benar hilang, melainkan bergeser ke rumah tangga, seperti meningkatnya konsumsi listrik, sehingga efektivitas kebijakan WFH dalam konteks penghematan energi menjadi dipertanyakan.
  • Ateng mendorong pemerintah untuk memperketat penyaluran BBM bersubsidi dan membatasi penggunaannya bagi kendaraan dengan kapasitas mesin besar untuk menekan konsumsi tanpa membebani masyarakat kecil.
atau

UPdates—Anggota Komisi XII DPR RI  Ateng Sutisna, meminta pemerintah meninjau ulang wacana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan sebagai upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

You may also like : mulyadi dprPemerintah Diingatkan Soal Janji BBM Satu Harga di Seluruh Indonesia

Politikus PKS itu menilai target efisiensi hingga 20 persen yang disampaikan pemerintah perlu dikaji lebih mendalam agar tidak meleset dari kondisi riil di lapangan.

You might be interested : captureAnggota Komisi XII DPR RI Nilai Penggunaan Etanol dalam BBM Belum Tepat

Upaya menekan beban subsidi energi kata Ateng memang menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan harga minyak global dan ketidakpastian geopolitik. Namun, kebijakan yang diambil harus berbasis perhitungan yang matang dan tepat sasaran, bukan sekadar asumsi.

“WFH satu hari belum tentu efektif menurunkan konsumsi BBM. Ada potensi pergeseran aktivitas, dari mobilitas kerja menjadi mobilitas non esensial,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta Jumat, 27 Maret 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website resmi DPR RI.

Ateng mengingatkan, pendekatan yang terlalu sederhana dalam membaca pola konsumsi energi justru berisiko meleset dari tujuan awal. Tanpa pembatasan aktivitas seperti pada masa pandemi, masyarakat tetap akan melakukan perjalanan.

Bahkan, jika diterapkan mendekati akhir pekan, kebijakan ini berpotensi mendorong peningkatan mobilitas ke luar kota. Selain aspek konsumsi BBM, Ateng juga menyoroti potensi dampak ekonomi yang kerap luput dari perhitungan.

Berkurangnya aktivitas perkantoran dapat menekan pendapatan pelaku usaha kecil di sekitar pusat kerja, seperti pedagang kaki lima hingga pengemudi transportasi daring.

“Jangan sampai kebijakan penghematan energi justru memukul ekonomi rakyat kecil yang bergantung pada aktivitas harian di kawasan perkantoran,” ujarnya.

Di sisi lain, biaya operasional kata dia tidak benar-benar hilang, melainkan bergeser ke rumah tangga, seperti meningkatnya konsumsi listrik. Hal ini membuat efektivitas kebijakan WFH dalam konteks penghematan energi menjadi dipertanyakan.

Makanya, Ateng menegaskan bahwa arah kebijakan penghematan energi seharusnya difokuskan pada pembenahan sistem distribusi subsidi agar lebih tepat sasaran.

“Masalah utamanya bukan pada jumlah konsumsi semata, tetapi pada siapa yang menikmati subsidi. Ini yang harus dibenahi,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah untuk memperketat penyaluran BBM bersubsidi, termasuk membatasi penggunaannya bagi kendaraan dengan kapasitas mesin besar. Langkah ini dinilai lebih berdampak langsung dalam menekan konsumsi tanpa membebani masyarakat kecil.

Selain itu, percepatan reformasi skema subsidi juga dinilai krusial agar bantuan energi benar-benar diterima oleh kelompok yang berhak.

“Penghematan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru membebani masyarakat, tetapi tidak menyentuh akar persoalan,” pungkasnya.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

mustofa bisri

Achmad Mustofa Bisri

"Kerendahanmu tidak akan terangkat dengan merendahkan orang lain."
Load More >