
UPdates - Krisis kemanusiaan di Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel masih dirasakan dampaknya oleh masyarakat hingga saat ini.
You may also like :
Operasi True Promise III Iran, Sistem Pertahanan Israel Jebol Dibombardir Rudal, Amerika Terpaksa Membantu
Agresi tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur, rumah warga, serta fasilitas kesehatan, dan menyebabkan ribuan korban jiwa maupun luka-luka. Serangan yang berlangsung secara masif menghancurkan berbagai pusat pelayanan kesehatan esensial, mulai dari tingkat desa hingga kota besar.
You might be interested :
Jusuf Kalla Kunjungi Pengungsi di Kabupaten Bener Meriah Aceh
Sektor kesehatan Iran kini berada dalam tekanan berat akibat kerusakan infrastruktur fisik dan terganggunya rantai pasok medis.
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Iran, sedikitnya 50 rumah sakit dan ratusan fasilitas kesehatan lainnya mengalami kerusakan parah hingga hancur total akibat serangan langsung maupun gelombang ledakan di sekitarnya.
Beberapa fasilitas yang terdampak di antaranya Hospital Gandhi di Teheran serta sebuah rumah sakit jiwa di ibu kota. Puluhan pusat layanan kesehatan terpaksa berhenti beroperasi.
Selain itu, lebih dari 180 pusat kesehatan primer, pos kesehatan pedesaan (health houses), dan klinik komunitas mengalami kerusakan sehingga memutus akses layanan kesehatan dasar bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Serangan tersebut juga berdampak pada lumpuhnya kemampuan domestik Iran dalam memproduksi obat-obatan akibat rusaknya sejumlah fasilitas utama industri farmasi.
Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI), A.M. Fachir menyampaikan bantuan obatobatan dan alat kesehatan darurat yang dikirimkan PMI merupakan respons atas permintaan resmi dari Pemerintah Iran.
“Bantuan obat-obatan dan alat medis darurat PMI ke Iran ini merupakan respons Ketua Umum PMI Bapak Muhammad Jusuf Kalla atas surat dari Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mr. Mohammad Boroujerdi, terkait permintaan obat-obatan darurat dan peralatan medis,” ujar Fachir dalam keterangan resminya yang diterima Redaksi Keidenesia.TV, Jumat, 29 Mei 2026.
Sekjen PMI itu pun menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk nyata solidaritas kemanusiaan rakyat Indonesia kepada masyarakat Iran.
“Bantuan ini bukan hanya sekadar penyampaian bantuan kemanusiaan. Lebih dari itu, ini adalah perwujudan nyata dari komitmen kita untuk menghadirkan empati, kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan, serta solidaritas rakyat Indonesia terhadap rakyat Iran. Kami berharap donasi ini dapat mendukung upaya kemanusiaan dan layanan bantuan medis yang sedang berlangsung bagi masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.
Sementara itu, Minister Counsellor sekaligus Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI Islamabad, Rahmat Hindiarta Kusuma menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif PMI dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan tersebut melalui Iran Red Crescent.
“KBRI Islamabad sangat mendukung inisiatif PMI dalam memberikan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan kepada masyarakat Iran melalui Iran Red Crescent. Sejak awal, KBRI Islamabad telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Pakistan, Kedutaan Besar Iran di Pakistan, serta mengidentifikasi vendor dan melakukan market survey terkait ketersediaan stok obat-obatan dan alat kesehatan,” ungkap Rahmat.
Kepala Markas PMI Pusat, Arifin Muh Hadi yang memimpin langsung proses pengadaan bantuan di Islamabad, Pakistan, menjelaskan bahwa pengadaan bantuan dilakukan melalui koordinasi lintas pihak.
“PMI dalam melakukan pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan darurat sepenuhnya difasilitasi oleh KBRI Islamabad, serta melibatkan Pakistan Red Crescent Society (PRCS) dan Kedutaan Besar Iran di Islamabad. Kami juga melakukan koordinasi dan komunikasi intensif dengan Iran Red Crescent di Teheran serta KBRI Teheran,” jelas Arifin.
Lebih lanjut, Arifin menyampaikan bahwa bantuan dengan total nilai mencapai Rp2 miliar tersebut akan dikirim menggunakan dua kontainer berukuran 40 feet.
“Seluruh proses pengadaan saat ini telah selesai 100 persen dan minggu depan bantuan akan segera dikirim menuju Taftan, wilayah perbatasan Pakistan dan Iran. Bantuan tersebut meliputi obat-obatan habis pakai, alat pelindung diri (APD), peralatan kesehatan darurat atau wounded and injury kits, peralatan bedah minor, serta obat-obatan esensial lainnya,” tambahnya.
Sebelum terjadinya serangan, Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem infrastruktur kesehatan yang maju. Iran telah mencapai sekitar 90 persen swasembada industri farmasi dan produksi alat kesehatan, bahkan mampu mengekspor obat-obatan dan alat kesehatan ke berbagai negara.
Namun, serangan yang terjadi mengakibatkan kerusakan parah pada pusat-pusat medis, pabrik farmasi, serta fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Iran.
Kondisi tersebut menyebabkan Iran kini menghadapi kekurangan pasokan obat-obatan dan alat kesehatan.
Kehadiran PMI dalam memberikan bantuan kemanusiaan diharapkan dapat membantu mendukung pemulihan layanan kesehatan dan kebutuhan medis masyarakat Iran.
Sebelumnya, PMI juga telah menyalurkan bantuan kemanusiaan ke sejumlah negara terdampak krisis, di antaranya Sudan, Afghanistan, dan Lebanon.