
UPdates—Polemik mantan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas (DS) yang viral setelah pamer paspor Inggris anaknya dan mengatakan "cukup saya WNI, anak jangan" terus berlanjut.
You may also like :
Anggaran Pendidikan 2026 Terbesar Sepanjang Sejarah
Meski yang bersangkutan dilaporkan sudah bersedia mengembalikan dana beasiswa yang digunakan, sorotan pada DS yang juga seorang influencer masih bermunculan.
You might be interested :
8 Atlet Pelatnas Panjat Tebing Diduga Alami Pelecehan Seksual, DPR: Usut Tuntas!
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian kini angkat bicara. Ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral para penerima beasiswa LPDP.
Ia menegaskan bahwa sebagai program yang dibiayai dana publik, LPDP menuntut komitmen kebangsaan yang kuat dari setiap penerimanya.
Menurut Hetifah, LPDP bukan sekadar skema pembiayaan studi, melainkan instrumen strategis negara untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul yang kelak berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Karena itu, masyarakat memiliki ekspektasi tinggi agar penerima beasiswa menunjukkan dedikasi terhadap Indonesia.
“Dana LPDP berasal dari publik, sehingga ada tanggung jawab moral dan politik agar penerimanya kembali serta berkontribusi bagi bangsa,” ujar Hetifah dalam keterangan tertulis sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website DPR RI, Selasa, 24 Februari 2026.
Bagi Hetifah, viralnya pernyataan yang beredar wajar memunculkan sensitivitas publik. Di tengah harapan besar terhadap kontribusi alumni beasiswa negara, narasi yang terkesan menjauh dari semangat keindonesiaan dapat menimbulkan kekecewaan.
Meski begitu, Hetifah mengingatkan agar persoalan tersebut disikapi secara proporsional. Ia menegaskan bahwa status kewarganegaraan dalam lingkup keluarga merupakan hak personal. Fokus negara, lanjutnya, terletak pada pemenuhan kewajiban kontraktual penerima beasiswa, termasuk kewajiban kembali ke Indonesia dan mengabdi sesuai ketentuan.
“Yang menjadi titik akuntabilitas adalah kepatuhan terhadap kontrak, komitmen kembali, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” tegas Legislator Fraksi Partai Golkar dapil Kaltim itu.
Ke depan, Komisi X DPR RI mendorong penguatan pembinaan nilai kebangsaan, pengawasan kewajiban pascastudi, serta transparansi kontribusi alumni kepada publik.
Menurut Hetifah, penguatan sistem tersebut lebih penting daripada merespons secara reaktif dengan menambah aturan baru.
“LPDP adalah investasi kepemimpinan dan kapasitas nasional. Setiap rupiah dana pendidikan harus kembali menjadi manfaat bagi Indonesia, dan komitmen itu tercermin dalam sikap maupun tanggung jawab publik para penerimanya,” pungkasnya.
Sebelumnya, DS sudah meminta maaf atas ucapannya yang dinilai merendahkan Indonesia. Apalagi, DS bersama suaminya, AI, belum menuntaskan kewajiban pengabdiannya yang menjadi salah satu persyaratan dalam program LPDP.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa yang sangat menyayangkan kejadian tersebut mengungkapkan Direktur Utama LPDP telah berkomunikasi dengan pihak keluarga penerima beasiswa.
Dari komunikasi tersebut, yang bersangkutan disebut telah menyatakan kesediaan untuk mengembalikan dana yang digunakan.
“Pak Dirut LPDP sudah bicara dengan suami dan dia sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai dari LPDP termasuk bunganya. Saya harapkan ke depan, teman-teman yang dapat pinjaman LPDP, jangan menghina-hina negara,” katanya dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Senin, 23 Februari 2026.
DS menjadi sorotan dan viral setelah membuat pernyataan kontroversial "cukup saya WNI, anak jangan" yang menghebohkan dunia maya.
Perempuan pemilik akun Instagram @sasetyaningtyas itu mengunggah video pernyataannya itu yang memperlihatkan dirinya tengah membuka sebuah paket yang sudah dinantikannya.
Isinya selembar surat dari Home Office Inggris yang menyatakan anak kedua sang pemilik akun, resmi menjadi warga negara Inggris. Ia juga memperlihatkan paspor Inggris yang datang bersamaan dengan surat tersebut.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen yang penting banget yang merubah nasib dan masa depan anak-anaku, kita buka ya," ujarnya.
"Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris," lanjutnya.
Ia kemudian menyebut anak-anaknya kelak akan diupayakan memiliki kewarganegaraan asing.
"I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anaku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ujarnya.