Detik-detik dua siswa SPN Polda NTT saat dianiaya seniornya, Bripda Torino Tobo Dara, pada Kamis, 13 November 2025. (Foto: Tangkapan layar/Video X)

Polisi Minta Direkam lalu Hajar 2 Siswa SPN Polda NTT, Keluarga Protes, Netizen Viralkan

14 November 2025
Font +
Font -

UPdates—Oknum polisi bernama Bripda Torino Tobo Dara menghajar dua siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial KLK dan JSU. Aksinya diviralkan netizen di media sosial (medsos).

You may also like : bimantoro dpr gerindraDPR Minta jangan Main Pukul di Pendidikan Polisi

Dalam video berdurasi 26 detik yang tersebar luas di medsos, Torino yang mengenakan kaus polisi cokelat terlihat berbicara dengan rekannya yang lain dan meminta direkam.

Setelah memastikan aksinya terekam, ia langsung meninju serta menendang KLK dan JSU yang mengenakan seragam siswa SPN Polda NTT berikut helm. Satu siswa memegang helm-nya. Sementara yang lainya meletakkannya di lantai.

Sebagaimana dipantau Keidenesia.tv di X, Jumat, 14 November 2025, sebelum Torino mulai memukul, salah satu korban sempat memohon agar mereka tidak dipukuli. Namun, Torino yang bertubuh kekar dan jauh lebih besar tak menggubrisnya.

Ia secara membabi buta memukul dan menendang mereka di bagian wajah, perut, sekitar alat vtal, dan bagian tubuh lainnya. Para korban pun hanya bisa melindungi wajah mereka.

Setelah kejadian itu, keluarga dari kedua siswa tersebut mendatangi Mapolda NTT untuk meminta pertanggung jawaban.

Untungya, setelah dilakukan komunikasi dan pendekatan persuasif, mereka akhirnya menyerahkan penanganan kasus penganiayaan itu kepada Polda NTT.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, membenarkan pemukulan yang dilakukan polisi senior pada siswa SPN itu.

"Kejadiannya pada Kamis, 13 November 2025," ungkap Henry kepada awak media pada Jumat, 14 November 2025.

Ia mengatakan, kejadian itu dipicu persoalan rokok. "Aksi pemukulan dipicu oleh rasa kesal senior karena kedua siswa kedapatan merokok," jelas Henry.

Bidpropam Polda NTT sudah melakukan interogasi terhadap pelaku yang merupakan anggota Ditsamapta Polda NTT dan dilantik sebagai anggota Polri pada 12 Februari 2025.

Selain itu, perekam video, Bripda GP yang menjadi saksi kunci juga sudah dimintai keterangan oleh Propam.

Selain langsung memeriksa pelaku dan saksi, Polda NTT juga melakukan pengecekan medis terhadap kedua siswa tersebut.

“Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya luka atau memar pada tubuh korban," ujar Henry.

Menurut Henry, kasus ini mendapat perhatian dari Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko. Ia juga memastikan semua tahapan dilakukan secara profesional, transparan, sebagaimana ketentuan hukum dan kode etik Polri.

"Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran disiplin maupun etika, khususnya yang berkaitan dengan tindakan kekerasan. Kapolda NTT telah memberikan arahan tegas agar kasus ini ditangani tuntas oleh Bidang Propam," tegas Henry.

Polda NTT sudah menerbitkan Surat Perintah Penempatan Khusus (Patsus) untuk pelaku. “Bripda TT ditempatkan di Patsus sambil pemeriksaan lanjutan berjalan,” beber Henry.

Ditegaskan Henry, Polda NTT berkomitmen menjadikan penanganan kasus ini sebagai contoh nyata penerapan nilai asah, asih, dan asuh dalam pembinaan.

Ini juga sekaligus sebagai penegasan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat di lingkungan Polri. “Kami berharap kejadian seperti ini tidak kembali terjadi,” kata Henry.

Kejadian ini menjadi sorotan publik di tengah banyaknya kasus yang melibatkan aparat kepolisian. Beberapa netizen mengaitkan kejadian seperti ini dengan peristiwa kekerasan yang dilakukan aparat terhadap warga sipil.

“Anak didik itu punya saudara, paman, bibi, ibu, ayah. Kalau ga terima? End deh, (pasti ga terima lah),” komentar pengguna X dengan akun bernama @DwiPakerti.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

capture

Bertrand Russell

“Perang tidak menentukan siapa yang benar, hanya siapa yang tersisa.”
Load More >