
UPdates—Sebulan setelah Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan agar jumlah fakultas kedokteran (FK) baru diperbanyak untuk mengatasi kekurangan 100.000 dokter, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menggemparkan publik.
You may also like :
Anggota DPR Minta Korban Begal Tercover BPJS Kesehatan
Menkes memecat dokter konsultan jantung anak senior, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K). Pemecatan ini bukan hanya mengejutkan, namun juga mengkhawatirkan.
You might be interested :
Keracunan Terus Berlanjut, Guru Ogah Jadi Tester, Kepala BGN Tegaskan Siswa Meninggal bukan karena MBG
Dokter Piprim seperti diketahui merupakan staf pengajar atau dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan mengajar calon dokter subspesialis kardiologi anak di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang merupakan rumah sakit pendidikan utama.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (2024–2027) itu juga aktif memberikan kuliah pakar di berbagai Fakultas Kedokteran lain.
Makanya, setelah mengetahui pemecatannya, Menkes diamuk pasien, keluarga pasien, dan netizen. Keputusannya dianggap sudah menyusahkan dan bahkan mengancam pasien anak dengan penyakit jantung yang rutin ke RSCM.
Menkes juga dituduh mengganggu jalannya pendidikan calon spesialis anak dan spesialis anak subspesialisasi jantung.
Pemecatan dr.Piprim dianggap bukan soal pekerjaan satu orang yang hilang, melainkan menyangkut nasib ribuan pasien anak yang memiliki PJB (Penyakit Jantung Bawaan). Itu karena ahli jantung anak seperti dr.Piprim jumlahnya sangat sedikit dibandingkan pasien PJB anak yang terus bertambah.
“Pak ini gimanasih asal pecat @dr.piprim aja?? Saya sebagai pasien beliau di RSCM sangat sedih dan kecewa mendengar keputusan ini. Saya sebagai orang tua anak KJB (Kelainan Jantung Bawaan) merasa bingung dan cemas! Bagaimana dengan kesehatan anak kami selanjutnya? Bagaimana dengan tindakan operasinya?” kecam pengguna Instagram dengan akun bernama @zanetarara_ di Instagram Kemenkes sebagaimana dipantau Keidenesia.tv, Senin, 16 Februari 2026.
Pemilik akun itu mengungkap, sejak awal anaknya ditangani oleh dr.piprim. Menurutnya, tidak mungkin kalau anaknya tiba-tiba langsung diambil alih oleh dokter yang lain. “Apalagi di sana dr.Piprim lah spesialis kardiologi anaknya,” keluhnya.
Menurutnya, kalau anak cuma sakit batuk atau pilek, mereka tidak akan khawatir dan cemas kalau harus berganti dokter. Tapi ini kata dia adalah jantung, organ yang sangat vital di tubuh manusia.
“Bapak memecat 1 orang dokter professional tanpa sebab dan alasan yg konkrit berarti sama saja sudah tidak memikirkan nasib masyarakat dan anak2 yg sedang bertaruh mendapatkan jantung yg normal dan sehat! Semoga bapak diberikan hidayah ya pak, semoga Allah merubah hati bapak,” tegasnya seraya menandai akun Menkes Budi.
Pemilik akun Instagram bernama @puputcahyaningtias tak kalah pedas mengecam. Ia juga menyinggung keinginan Prabowo menghasilkan banyak dokter.
“Katanya butuh banyak dokter @prabowo tapi menkes malah pecat gurunya para dokter yang jelas jelas selalu membela rakyat dan penuh edukasi. Gimana sih pak. Yg pinter dan jelas harus dipertahankan malah dipecat cuma gara-gara ndak manut,” ujarnya.
Pemecatan dr. Piprim merupakan imbas dari penolakannya terhadap mutasi dari RSCM ke RSUP Fatmawati. Ia menganggap mutasi itu sebagai hukuman karena menentang pengambilalihan Kolegium oleh Kemenkes.
Kolegium adalah badan ilmiah dokter spesialis yang mengatur standar pendidikan & kompetensi dan seharusnya independen berdasar UU Kesehatan 2023.
Selain itu, dokter Piprim yang dimutasi dari RSCM ke RS Fatmawati lewat SK 26 Maret 2025 menolak karena tak diberi tahu langsung dan menganggap tak merit-based.
Direktur Utama RSUP Fatmawati, Wahyu Widodo kepada awak media menekankan pemecatan dr. Piprim sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dokter spesialis anak tak bersifat politis.
Pemberhentian dr. Piprim sebagai ASN menurut dia karena ketidakhadiran yang bersangkutan selama 28 hari kerja atau lebih berdasarkan PP No. 94 Tahun 2021 terkait Disiplin PNS.
Sebelumnya, dr. Piprim menghebohkan publik setelah mengklaim dipecat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Ia menyampaikan kabar pemecatannya dalam unggahan di akun media sosial Instagramnya, @dri.piprim, Minggu, 15 Februari 2026.
“Akhirnya saya dipecat oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin. Setelah perjuangan sekian lama menolak mutasi yg bernuansa hukuman akibat saya memperjuangkan independensi kolegium ilmu kesehatan anak,” tulisnya sebagaimana dipantau Keidenesia.tv, Senin, 16 Februari 2026.
“Walaupun akhirnya Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa kolegium harus independen yang artinya perjuangan kami di IDAI sesuai dengan konstitusi,” lanjutnya.
Dalam unggahannya, ia meminta maaf kepada pasiennya di RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan mahasiswanya di Universitas Indonesia. Ia mengaku tidak bisa lagi melayani dan mengajar mereka.
“Mohon maaf kepada semua pasien saya dan murid-murid saya yang tidak bisa saya layan lagi dan saya ajari lagi. Terima kasih. Semoga anak-anak Indonesia tetap sehat,” tulisnya.