
UPdates—Sebuah roket SpaceX yang tak terkendali telah menabrak Bulan.
You may also like :
Jumat 14 Maret Terjadi Gerhana Bulan Total, Bisa Dilihat dari Wilayah Ini
Wahana antariksa seberat 4.000 kilogram itu menghantam dengan kekuatan setara tiga ton TNT, menyemburkan awan debu dan meninggalkan kawah baru di permukaan Bulan.
You might be interested :
China Ingatkan Rencana Pertahanan Rudal AS Berisiko Memiliterisasi Luar Angkasa
Para peneliti sebelumnya memperkirakan roket tersebut akan menghantam sekitar pukul 07.35 pagi waktu Inggris, atau 02.35 dini hari Waktu Timur (AS).
Para ilmuwan sempat memperkirakan adanya kilatan samar akibat benturan tersebut, namun astrofotografer amatir yang mengamati melalui teleskop tidak melihat tanda-tanda tabrakan dari Bumi.
Teleskop darat di Amerika memantau tanda-tanda ledakan—meskipun gambar mungkin baru muncul beberapa hari kemudian—dan wahana antariksa yang mengorbit Bulan dijadwalkan mengirimkan gambar lokasi tabrakan saat melintas di atasnya dalam beberapa hari mendatang.
Bagian roket tersebut merupakan komponen dari wahana antariksa Falcon 9 yang diluncurkan pada Januari 2025, yang membawa wahana pendarat (lunar lander) menuju permukaan Bulan.
Biasanya, tingkat atas (upper stage) roket SpaceX akan jatuh kembali ke atmosfer Bumi lalu terbakar habis atau jatuh ke laut.
Namun, misi wahana pendarat Bulan membutuhkan daya dorong lebih besar dibandingkan misi yang lebih dekat dengan Bumi, sehingga tingkat atas roket tersebut dibiarkan melayang di luar angkasa.
SpaceX tidak merencanakan agar roket tersebut menabrak Bulan. Namun, awal tahun ini, para astronom menemukan bahwa roket itu bergerak menuju permukaan Bulan, dan karena seluruh bahan bakarnya telah habis, roket tersebut tidak dapat mengubah arah.
"Apa yang terjadi pada dasarnya adalah kombinasi antara aktivitas matahari dan gaya gravitasi yang mengarahkannya ke Bulan," ujar Julianna Scheiman, direktur program sains NASA dan Dragon di SpaceX, kepada wartawan pada hari Senin sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Independent, Rabu, 5 Agustus 2026.
Pejabat NASA juga menegaskan bahwa tabrakan tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi Bumi.
Peristiwa tabrakan ini memicu antusiasme di kalangan ilmuwan, yang berharap dapat mempelajarinya untuk lebih memahami bagaimana benturan mengubah kondisi Bulan, serta memahami risiko keselamatan yang mungkin ditimbulkan bagi astronaut yang kelak tinggal di sana.
Permukaan Bulan secara rutin dihantam oleh objek alami dari luar angkasa, namun tabrakan-tabrakan tersebut lebih sulit diprediksi sehingga lebih sulit pula untuk diamati secara rinci.
Akan tetapi, para ahli memperingatkan bahwa insiden ini juga menyoroti meningkatnya jumlah puing akibat peluncuran roket yang kini mengapung di luar angkasa—serta bahaya yang mungkin ditimbulkannya di masa depan, misalnya jika puing-puing tersebut bertabrakan dengan satelit-satelit penting.
"Hal ini mungkin memiliki nilai ilmiah—meski mungkin kecil—dan kita bisa mempelajari beberapa hal darinya," ujar Bill Gray, pembuat perangkat lunak astronomi yang banyak digunakan, yang menerbitkan laporan mengenai dampak bagian roket tersebut pada bulan April.
"Hal ini tidak menimbulkan bahaya bagi siapa pun, namun memang menyoroti adanya kelalaian terkait cara pembuangan sisa perangkat keras antariksa (sampah antariksa)," lanjutnya.
Benturan sampah antariksa di Bulan merupakan kejadian yang jarang terjadi.
Sebuah bagian roket Tiongkok menabrak Bulan pada Maret 2022 setelah menyelesaikan misi uji coba ke Bulan.
Pada tahun 2009, NASA sengaja menabrakkan bagian roket ke Bulan untuk mempelajari kepulan material bulan yang terlempar akibat benturan tersebut.
Beberapa wahana antariksa yang ditujukan untuk mendarat secara halus di Bulan dalam beberapa tahun terakhir justru mengalami kecelakaan dan jatuh.
Misi Luna-25 milik Rusia yang bertenaga nuklir kehilangan kendali dan jatuh pada tahun 2023. Sumber daya kecilnya yang berupa plutonium-238 kemungkinan besar masih berada di permukaan Bulan tanpa menimbulkan bahaya.
Misi pendarat Chandrayaan-2 milik India jatuh pada tahun 2019. Pendarat Beresheet milik Israel juga jatuh pada tahun yang sama.
Di antara muatan pendarat Israel tersebut terdapat tardigrade mungil—hewan mikroskopis yang dikenal mampu bertahan hidup dari radiasi dan lingkungan ekstrem lainnya—yang mungkin masih berada di permukaan Bulan.
NASA sengaja menabrakkan bagian-bagian roket bulan Saturn V ke Bulan pada tahun 1970-an untuk mempelajari efek seismik dari benturan tersebut.
SpaceX dan NASA sedang mendiskusikan cara-cara untuk mencegah benturan di Bulan di masa mendatang, kata Scheiman.
Badan antariksa AS tersebut berencana membangun pangkalan di Bulan dan mengirimkan misi astronaut secara rutin ke permukaan Bulan mulai akhir dekade ini melalui program Artemis yang bernilai miliaran dolar.
Mereka tentu tidak ingin serpihan sampah antariksa yang tak terkendali menabrak aset-aset tersebut.