UPdates - Setiap tanggal 3 April setiap tahunnya diperingati Hari Keamanan Cloud Sedunia. Peringatan ini merupakan inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan pemimpin TI dan keamanan tentang ancaman yang terus berkembang terkait pekerjaan jarak jauh, hibrida, serta kebijakan Bring Your Own Device (BYOD).
Disadur Keidenesia dari laman National Today, Kamis, 3 April 2025, peringatan ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya tantangan keamanan yang dihadapi organisasi dalam mendukung pekerja jarak jauh.
Laporan terkini menunjukkan bahwa 32% pekerja jarak jauh menggunakan aplikasi atau perangkat lunak yang tidak disetujui oleh departemen TI, dan 92% dari mereka menggunakan perangkat pribadi seperti tablet atau ponsel pintar untuk tugas pekerjaan.
Perangkat dan aplikasi yang digunakan, bersama dengan data perusahaan yang diakses, sering kali tidak terpantau oleh departemen TI, yang dikenal dengan istilah shadow IT, sehingga meningkatkan risiko keamanan organisasi secara signifikan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, cloud kini menjadi tulang punggung bagi banyak organisasi. Pada tahun 2020, sekitar 61% bisnis di AS memindahkan beban kerja mereka ke cloud untuk mendukung pekerjaan jarak jauh dan memastikan aksesibilitas data perusahaan yang cepat.
Pada tahun 2002, 60% data perusahaan sudah disimpan di cloud. Meskipun cloud menawarkan fleksibilitas dan potensi peningkatan produktivitas, ia juga membawa risiko-risiko yang tidak selalu mudah dideteksi.
Seiring dengan semakin luasnya adopsi cloud, ancaman keamanan pun semakin berkembang. Para pelaku ancaman terus berinovasi dengan taktik-taktik baru, memanfaatkan pekerja jarak jauh yang sering menggunakan ponsel pintar, tablet, dan internet publik untuk mengakses layanan cloud.
Dalam upaya mereka, penyerang kini mulai beralih dari serangan phishing melalui email ke kampanye rekayasa sosial yang memanfaatkan pesan teks SMS, aplikasi media sosial, atau aplikasi pesan lainnya.
Dengan semakin banyaknya layanan cloud yang digunakan, organisasi menghadapi tantangan untuk mengawasi dan memperbarui konfigurasi setiap layanan dengan tepat waktu.
Kesalahan konfigurasi dan kerentanannya pun menjadi lebih umum, memberikan celah bagi penyerang untuk mengeksploitasi data yang tersimpan di cloud dan membahayakan keamanan organisasi dan individu.
Hari Keamanan Cloud Sedunia menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali semua pihak akan pentingnya menjaga keamanan data di cloud dan melakukan langkah-langkah preventif yang lebih baik dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.