The K Facts - Ia tidak memulainya dengan pidato panjang tentang perubahan. Namun, sehari setelah tongkat kepemimpinan berada dalam genggamannya, roda perubahan telah bergemuruh, gerbong besar langsung bergerak.
You may also like :
Bongkar Narkoba 1 Ton Ketamin, Kapolri Dapat Jempol DPR
88 perwira tinggi dan perwira menengah digeser, 14 jabatan utama di Mabes Polri berubah. Dan yang paling mencolok, 19 Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) ikut berganti.
You might be interested :
Detik-Detik Gelombang Besar Hantam Pantai Taiwan Saat Topan Champi Menerjang
inilah langkah awal Suyudi Ario Seto yang menandai babak baru dalam peta komando Korps Bhayangkara, sebagai Kapolri baru.
Tapi siapa sebenarnya suyudi?
Ini menarik. Ternyata, jauh sebelum mengenakan seragam cokelat, jauh sebelum bintang empat bertengger di pundaknya, Suyudi pernah berdiri di bawah gemerlap panggung yang berbeda.
Tahun 1988, ketika usianya masih 16 tahun dan duduk di bangku SMP Negeri 70 Jakarta, namanya tercatat sebagai semifinalis cover boy majalah Mode.
Dari panggung cover boy, ia kemudian memilih menapaki jalan pengabdian, hingga berlabuh di Akademi Kepolisian angkatan 1994.
Kariernya dimulai dari bawah, dan sebagian besar perjalanannya bersentuhan dengan dunia reserse.
Lalu pada Agustus 2025, Presiden Prabowo mempercayakannya memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).
Di BNN, Suyudi mengobarkan perang melawan narkoba. Bukan semata dengan ketegasan sebagai senjata, namun tetap menempatkan kemanusiaan sebagai tujuan. Sebuah semangat pengabdian yang ia bingkai dalam semboyan, “War on Drugs For Humanity”.
Salah satu perkara besar yang diungkap di bawah kepemimpinannya adalah kasus penyelundupan sekitar dua ton sabu jaringan internasional bernilai sekitar Rp5 triliun.
Dan kini, perjalanan panjang itu membawanya ke kursi tertinggi di Korps Bhayangkara.
Pada 1 Oktober, Suyudi resmi dilantik oleh Presiden Prabowo sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Sebuah tagline baru diperkenalkan yakni, “Polisi Bersama Masyarakat”.
Ia menggantikan semangat komunikasi yang selama ini dikenal dengan jargon “Presisi” — di era Listyo Sigit.
Kini, masyarakat ditempatkan sebagai pusat orientasi tugas kepolisian.
Lantas, langkah apa yang akan diayunkan Suyudi?
Ia mengatakan akan melakukan konsolidasi internal, mengevaluasi program yang sudah berjalan, memperbaiki pelayanan public, memperkuat penegakan hukum yang adil, dan mendekatkan polisi dengan masyarakat.
Dan mungkin, di situlah kita bisa memahami makna dari gerbong mutasi yang bergerak begitu cepat. Bukan sekadar mengganti nama di papan jabatan, tetapi menyiapkan barisan, untuk menjalankan arah baru.
Namun ingat, jabatan Kapolri bukan sekadar tentang siapa yang menggenggam tongkat komando, atau siapa yang berdiri paling tinggi di puncak kekuasaan. Tetapi tentang bagaimana kekuasaan itu digunakan, bukan untuk berdiri di depan masyarakat, melainkan menapaki jalan yang sama, mendengar denyut keresahan, dan berjalan beriringan bersama masyarakat.
Widget ini membantu Anda sahabat IDenesian mencari hashtag terbaik untuk postingan instagram kamu agar outstanding !
Klik tiap hashtagnya untuk memilih, atau klik Copy All untuk menyalin semuanya :)