Donald Trump (Foto: Anadolu)

Trump Segera Ambil Keputusan Besar Terkait Iran, Bagher: Si Penjahat

18 September 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates—Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa ia berada di persimpangan jalan mengenai apakah akan melancarkan kembali serangan terhadap Iran untuk melenyapkan rezim tersebut dan mengakhiri perang.

You may also like : trump daily ausafTrump Bilang Negara-Negara yang tidak Membantu AS Melawan Iran harus Bayar Ganti Rugi Setelah Perang Berakhir

"Saya akan segera mengambil keputusan besar. Apakah saya ingin masuk dan memusnahkan mereka atau tidak? Ini keputusan besar. Apa pun bisa terjadi dengan saya," ujarnya kepada Axios sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari New York Post, Jumat, 18 September 2026.

You might be interested : houthi tank afp yonhapArab Saudi Kehabisan Rudal Pencegat, AS Tolak Terlibat Lawan Houthi, Minta Bantuan Inggris dan Prancis

Komentar Trump ini mengulangi ancaman-ancaman sebelumnya yang ia lontarkan terhadap Teheran sejak perang dimulai.

Namun kali ini, ia mengatakan bahwa langkah selanjutnya kemungkinan akan dipengaruhi oleh pertemuan dengan sekutu-sekutu di kawasan Teluk dalam sidang Majelis Umum PBB pekan depan.

"Saya ingin mengetahui posisi dan kondisi mereka. Kami selama ini sangat melindungi mereka," ujar Trump.

Ketegangan diperkirakan akan memuncak dalam pertemuan tersebut setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan hebat terhadap Arab Saudi pekan lalu, yang mengancam pasokan minyak dan gas global.

Perdebatan sengit terjadi di Dewan Keamanan PBB pada hari Kamis setelah Rusia dan Tiongkok memveto upaya untuk memperpanjang masa tugas panel ahli yang memantau sanksi terhadap Iran serta program nuklir rezim tersebut.

Beijing dan Moskow berulang kali dituduh melindungi Iran dan bahkan membantu operasi militernya selama perang berlangsung.

Jennifer Locetta, seorang duta besar Amerika untuk PBB, mengecam keras veto tersebut sebagai "tindakan menghalang-halangi" yang nyata, yang menyoroti dukungan Rusia dan Tiongkok terhadap "rezim nakal" (rogue regimes).

Sementara itu, Iran diduga kembali berhasil menyerang pesawat AS pekan ini, dengan dua pesawat nirawak (drone) MQ-1 Predator ditembak jatuh dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan CBS News.

Pesawat nirawak (UAV) model lama tersebut — yang diperkirakan bernilai sekitar $4 juta per unit — telah digunakan untuk mengamankan Selat Hormuz di bawah blokade angkatan laut AS, menurut laporan media tersebut.

AS telah kehilangan setidaknya 24 drone MQ-9 Reaper sejak perang dimulai, yang merupakan kerugian sekitar $720 juta, menurut laporan Congressional Budget Office yang dirilis pekan ini.

Iran berulang kali menyatakan bahwa serangan mereka terhadap pasukan dan peralatan militer AS di Timur Tengah tidak akan berhenti sampai kendali mereka atas Selat Hormuz diakui.

Di tengah ketidakpastian perundingan damai, rezim tersebut mengeluarkan ultimatum terbaru yang menyatakan bahwa selat itu akan tetap ditutup sampai Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu digulingkan dari kekuasaan.

"Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump si penjahat dan Netanyahu yang haus darah digulingkan dari tampuk kekuasaan, dan ini adalah tahap pertama pembalasan bangsa Iran," ujar Mohammad Bagher Zolghadr, penasihat politik bagi Pemimpin Tertinggi Iran yang keberadaannya masih belum diketahui.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

capture

Mark Twain

"Rahasia untuk maju adalah memulai."
Load More >