Sebuah truk katering terlihat diparkir di sisi seberang Air Force One setelah Presiden Trump menaiki pesawat tersebut di Turki bulan lalu. (Foto: Alex Brandon/AP Photo)

Trump Sudah Sembunyi di Truk Katering, Analis CIA Malah Ragukan Info Intelijen Israel, Turki Bilang Dibohongi

13 August 2026
Font +
Font -

UPdates—Para pejabat intelijen AS meragukan informasi intelijen dari Israel yang memperingatkan adanya rencana Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump di Turki bulan lalu.

You may also like : hamas anadoluPesan Video Sandera AS di Gaza ke Trump: Saya tak Mau Mati, jangan Ulang Kesalahan Biden

Info Israel soal ancaman tersebut memicu operasi pengelabuan luar biasa saat Trump meninggalkan Turki.

You might be interested : jason bannan twpFBI Punya Bukti Penyebab Covid-19, tapi tak Diizinkan Memberi Tahu Presiden

Demikian dilaporkan The Washington Post pada hari Rabu waktu AS sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Newsmax, Kamis, 13 Agustus 2026.

Pemerintah Israel menyampaikan peringatan tersebut kepada CIA, namun para analis badan intelijen itu tidak menganggap informasi tersebut meyakinkan dan menyampaikan keraguan mereka kepada para pejabat pemerintahan Trump, menurut laporan Post yang mengutip pejabat AS saat ini maupun mantan pejabat AS.

Seorang pejabat menggambarkan laporan tersebut sebagai informasi yang "berasal dari Israel, bukan buatan AS, dan dinilai memiliki tingkat keyakinan rendah."

Terlepas dari keraguan tersebut, Gedung Putih dan Secret Service mengambil langkah pencegahan luar biasa pada tanggal 8 Juli saat Trump meninggalkan KTT NATO di Ankara.

Trump secara terbuka menaiki salah satu pesawat Boeing 747 lama yang biasa digunakan untuk perjalanan kepresidenan, lalu diam-diam meninggalkan pesawat tersebut dan dibawa menggunakan truk katering bandara menuju pesawat C-32A milik Angkatan Udara yang menerbangkannya ke pangkalan RAF Mildenhall di Inggris, lapor Post. Pesawat militer yang lebih kecil itu dikawal oleh jet tempur F-16.

The New York Times melaporkan pada hari Rabu bahwa staf Gedung Putih Natalie Harp, Dan Scavino, dan Walt Nauta ikut dalam penerbangan C-32A bersama Trump, serta Menteri Perang Pete Hegseth.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent meninggalkan Turki dengan menaiki pesawat Air Force One lama yang berfungsi sebagai pengalih perhatian (umpan), bersama para jurnalis dan pejabat senior pemerintahan lainnya, menurut laporan Times.

Times mengidentifikasi para pejabat tersebut sebagai penasihat kebijakan utama Stephen Miller, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung, sekretaris staf Will Scharf, wakil penasihat keamanan nasional Michael Needham, wakil kepala staf Richard Walters, dan ajudan Christopher Ambrosini.

Laporan Times menyebut bahwa para wartawan di dalam pesawat pengalih perhatian tersebut diperintahkan untuk menurunkan penutup jendela tanpa diberi tahu alasannya; langkah ini mencegah mereka melihat Trump meninggalkan pesawat.

Post melaporkan pada hari Rabu bahwa Rubio telah diberi pengarahan mengenai intelijen Israel dan rencana Secret Service, namun ia tetap menaiki pesawat pengalih perhatian tersebut.

Gedung Putih tidak secara langsung menanggapi pertanyaan pada hari Rabu mengenai informasi intelijen tersebut atau bagaimana badan-badan AS menilainya.

"Seperti yang telah disampaikan Presiden, beliau menghadapi berbagai ancaman terhadap nyawanya, termasuk dari Iran, dan segala langkah diambil untuk menjamin keselamatannya," ujar seorang pejabat AS kepada The Post.

Trump mengatakan pada Selasa malam bahwa Secret Service (Dinas Rahasia AS) yang mengambil keputusan untuk mengganti pesawat.

"Itu sepenuhnya keputusan Secret Service. Saya hanya mengikuti apa yang mereka anggap perlu," kata Trump kepada para wartawan.

"Mereka ingin saya menggunakan penerbangan lain, pesawat lain, dengan tingkat keamanan yang sama... Saya melakukan apa yang mereka katakan," lanjutnya.

Menurut The Post, sejumlah pejabat intelijen AS juga mempertanyakan motif Israel dalam menyampaikan peringatan tersebut.

Seorang mantan pejabat mengatakan hal itu "sesuai dengan pola umum pelaporan intelijen Israel yang, menurut pandangan sebagian pejabat, dirancang untuk memengaruhi pengambilan keputusan presiden sekaligus memberikan informasi."

Israel menganggap Iran sebagai ancaman paling mendesak dalam jangka pendek, namun memandang Turki sebagai ancaman jangka menengah hingga panjang serta merasa khawatir dengan menghangatnya hubungan antara Washington dan Ankara, ungkap seorang pejabat yang sedang menjabat kepada The Post.

Ancaman Iran terhadap Trump dan pejabat AS lainnya telah menjadi kekhawatiran serius sejak serangan AS pada tahun 2020 yang menewaskan komandan Pasukan Quds, Qasem Soleimani.

Pada bulan November 2024, Departemen Kehakiman mendakwa Farhad Shakeri—yang oleh jaksa disebut sebagai "aset IRGC"—terkait dugaan rencana pembunuhan Trump yang diarahkan oleh Garda Revolusi Iran.

Bulan Maret lalu, juri federal menyatakan Asif Merchant, seorang agen Iran, bersalah atas tuduhan pembunuhan bayaran dan terorisme yang bermula dari rencana terpisah untuk membunuh politisi dan pejabat pemerintah AS.

Kekhawatiran mengenai keamanan semakin meningkat sejak Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari.

Meskipun ada keraguan mengenai informasi intelijen terbaru dari Israel tersebut, seorang pejabat AS mengatakan kepada The Post bahwa Secret Service merasa tidak bisa mengambil risiko.

"Secret Service telah mengalami tiga insiden yang nyaris mencelakai presiden ini, jadi mereka tidak mau mengambil risiko apa pun," kata pejabat tersebut.

"Mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan," tandasnya.

Sementara itu, para pejabat Turki menduga bahwa laporan intelijen Israel merupakan taktik untuk menggagalkan perundingan dengan Teheran.

Middle East Eye mengutip para para pejabat Turki yang menyatakan keyakinan mereka bahwa laporan intelijen Israel tersebut kemungkinan besar hanyalah taktik pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Tujuannya untuk menampilkan diri sebagai pihak yang melindungi Trump, menggagalkan perundingan dengan Iran, serta merusak hubungan yang tampak erat antara Trump dan Erdogan.

"Tentu saja, kami menanggapi laporan tersebut dengan sangat serius dan berupaya membantu rekan-rekan kami dari Amerika semaksimal mungkin. Namun, bagi kami sangat jelas bahwa laporan itu sama sekali tidak benar," ujar seseorang yang mengetahui masalah ini kepada MEE.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >