
UPdates—Ribuan peserta memadati kota Buñol, Spanyol, pada hari Rabu untuk mengikuti La Tomatina 2026.
You may also like :
Jet F-18 Spanyol Tembak Jatuh Pesawat Nirawak Rusia di Atas Rumania
Mereka saling melempar hingga 165 ton tomat yang sudah sangat matang dalam waktu hanya satu jam lebih sedikit yang membuat kota itu seketika menjadi lautan merah.
You might be interested :
Tantangan Hafal Surat Ad-Dhuha untuk Sebotol Miras, The Sounds Project: Kami Marah, Kecewa, dan Mengecam
Truk-truk bermuatan tomat bergerak perlahan menembus kerumunan; orang-orang di bak belakang truk melemparkan tomat ke arah peserta, yang kemudian saling melempar tomat satu sama lain.
Kaus putih mereka segera berubah warna menjadi merah muda dan merah, sementara lagu-lagu pop diputar dengan lantang dari pengeras suara.
Warga menyiram para peserta dengan air dari balkon. Aksi saling lempar yang berantakan namun seru itu berlangsung selama lebih dari satu jam di kota tersebut, di mana bangunan-bangunan telah ditutupi terpal menjelang perayaan.
Sempat terlihat polisi menggunakan semprotan merica untuk membubarkan sebagian kerumunan, namun suasana meriah dengan cepat kembali tercipta.
Jumlah peserta tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 20.000 orang. Kantor berita Spanyol, EFE, melaporkan bahwa sekitar 40% peserta dalam tiga tahun terakhir berasal dari luar Spanyol, dengan peningkatan signifikan jumlah pengunjung dari India sejak film Bollywood tahun 2011, Zindagi Na Milegi Dobara (Hidup Hanya Sekali), menampilkan kembali festival ini.
Film ini mengisahkan perjalanan darat tiga sahabat melintasi Spanyol dalam rangkaian pesta lajang yang panjang. Film tersebut menampilkan kembali suasana La Tomatina, sehingga memperkenalkan festival ini kepada banyak orang India.
Film itulah yang pertama kali menarik minat Romail Khokhar, pria berusia 27 tahun asal Mumbai, untuk datang ke Buñol.
Ia berada di sana pada Rabu pagi, sangat antusias untuk mengikuti perang tomat tersebut untuk ketiga kalinya. Mazhar dan Sanya Khan, yang sama-sama berusia 40 tahun, juga merasa terinspirasi oleh film tersebut.
"Sungguh luar biasa, pengelolaannya sangat baik. Kami berasal dari India, dan ini adalah kali pertama kami mengikuti La Tomatina. Ini sudah menjadi impian kami selama lebih dari satu dekade," ujar Mazhar Khan sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari KCRA, Kamis, 27 Agustus 2026.
Film tersebut juga menarik minat Joanna Wytrzyszczewska dari Polandia.
"Jauh lebih gila daripada yang kami bayangkan. Kami datang karena terinspirasi oleh sebuah film. Pengalamannya bahkan lebih hebat daripada film itu sendiri," kata Wytrzyszczewska, 32 tahun.
Digelar pada hari Rabu terakhir bulan Agustus, asal-usul La Tomatina bermula dari sebuah perkelahian jalanan pada tahun 1945. Hanya ada satu aturan: hancurkan tomat sebelum melemparnya.
Banyak peserta mengenakan kacamata renang dan penyumbat telinga sebagai pelindung.
Setelah satu jam berlalu, suara dentuman meriam menandai berakhirnya perayaan, dan kerumunan peserta membilas diri di fasilitas pancuran umum di dekat lokasi. Jalan-jalan kota kemudian disemprot air hingga bersih.
Walaupun noda pada pakaian bisa jadi permanen, kandungan asam sitrat dalam tomat justru berfungsi sebagai bahan pembersih, sehingga jalanan kota Buñol sering kali menjadi lebih bersih daripada sebelumnya.