
UPdates—Seorang pria Tiongkok berusia 40 tahun selamat setelah tujuh hari terapung di laut. Ia bertahan hidup berkat kepiting mentah dan air kencingnya.
You may also like :
13 Anggota Study Tour SMP Terseret Arus di Pantai Drini Gunungkidul
Qin Jianping ditemukan telanjang dan tak sadarkan diri oleh dua nelayan pekan lalu. Menurut Xinhua ia terapung sekitar 10 km dari pantai Chengmai di provinsi pulau selatan Hainan.
Pengusaha dari Daerah Otonom Guangxi Zhuang itu sedang berjalan-jalan larut malam di pantai Haikou pada 27 Mei ketika ia tersapu oleh ombak besar.
Qin, yang sedang berlibur di ibu kota Hainan, menginjak kulit buah yang dibuang saat berjalan di sepanjang bendungan tepi laut dalam cuaca berangin dan jatuh ke air.
Ia tidak bisa meminta bantuan karena tidak membawa telepon genggam.
Karena belum pernah berenang di laut, ia melepas celana, sepatu, jam tangan, dan cincinnya agar tidak terbebani.
“Laut sama sekali tidak seperti kolam renang,” kata Qin kepada Xinhua sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Independent, Sabtu, 13 Juni 2026.
“Saya tidak bisa menyentuh dasar, dan ombak besar terus mendorong saya semakin jauh. Setiap kali saya berjuang satu meter ke arah pantai, ombak akan menarik saya tiga atau empat meter kembali. Tidak mungkin saya bisa berenang kembali,” bebernya.
Saat putus asa menderanya, ia menemukan pelampung dan berjuang untuk bertahan hidup di atasnya.
Cobaan yang dialaminya memburuk selama dua hari berikutnya karena, tanpa tidur dan makanan, ia menderita halusinasi. Saat itu, pantai sudah tidak terlihat dari pandangannya.
“Matahari membakar saya di siang hari, tetapi air terus mencuri panas tubuh saya. Setelah dua atau tiga hari terombang-ambing, laut terasa sedingin lemari es,” ceritanya.
Pada malam hari, saat suhu turun, ia mencoba menghangatkan diri dengan buang air kecil. “Air kencing adalah aliran panas yang hangat,” katanya.
“Aku meringkuk seperti bola dan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan sedikit panas ini agar tetap hangat,” lanjutnya.
Pada hari kelima, ia melihat pelampung navigasi berwarna oranye dengan dasar busa besar yang penuh dengan kepiting laut seukuran kuku.
Ia memakan sekitar 80 ekor kepiting mentah. Kepiting kecil itu menjadi satu-satunya makanannya selama terapung.
Untuk menghilangkan dahaga, ia mencoba minum air laut dan air kencingnya sendiri.
Penyelamatan datang pada tanggal 2 Juni, tujuh hari setelah ia hanyut, ketika Qin ditemukan oleh sepasang nelayan dari Chengmai.
Ia sangat linglung sehingga mengira sedang menyentuh kusen pintu dan diundang oleh teman-temannya ketika para nelayan mengulurkan sepotong kayu untuk menyelamatkannya.
“Karena Anda bersama kami sekarang, yakinlah Anda tidak akan mati,” kata para nelayan kepada Qin, menurut South China Morning Post.
“Jantungku berdebar kencang ketika melihatnya,” kenang Zheng Shizhong, yang menarik Qin keluar dari laut dengan bantuan Fu Tingsan.
“Namun arus yang kuat menyeretnya sejauh seratus meter dalam sekejap mata,” ungkapnya.
“Ketika kami menemukannya, dia berkata kepada kami, ‘Saya rasa saya akan mati,’” kenang Fu, menurut Global Times.
“Saya berkata kepadanya, ‘Kamu tidak akan mati. Kamu bertemu nelayan. Kami akan membawamu pulang’,” ujarnya.
Mereka membersihkan lukanya, memberinya air, mengganti pakaiannya dengan pakaian kering yang bersih, dan membawanya ke pantai dalam waktu satu setengah jam.
Istrinya, yang datang ke Hainan untuk mencari suaminya, mengatakan bahwa dia sudah menerima kenyataan bahwa suaminya telah tiada.
“Saya mengisi tiga botol air laut untuk dibawa kembali ke Guangxi sebagai kenang-kenangan untuk pemakamannya,” katanya.
Qin dirawat di Rumah Sakit Rakyat Kabupaten Chengmai, di mana Dr. Chen Boyi mengatakan bahwa ia dipindahkan ke bangsal biasa setelah menghabiskan dua hari di unit perawatan intensif.
Meskipun Qin menderita dehidrasi serius dan kulitnya terinfeksi, kondisi vitalnya sekarang stabil.
“Pemeriksaan menemukan bahwa ia mengalami peradangan sistem pencernaan. Kemungkinan besar karena ia telah memakan kepiting mentah,” kata Dr. Chen.
“Tetapi jika ia tidak memakan kepiting itu, ia mungkin akan kehilangan nyawanya,” jelasnya.
Qin sangat bersyukur bisa selamat dan berterima kasih kepada dua nelayan yang menyelamatkan nyawanya.
“Setelah sembuh, saya pasti akan mengunjungi kedua saudara saya dan berterima kasih kepada mereka karena telah menyelamatkan saya,” kata Qin, merujuk pada para nelayan tersebut.