
UPdates—Presiden AS, Donald Trump memperingatkan bahwa perang yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina dapat meningkat menjadi Perang Dunia III jika tidak dihentikan.
You may also like :
Kabar Rusia akan Tempatkan Pesawat Militer di Papua Bikin "Panik" Australia dan Amerika
Trump menyampaikan komentar tersebut saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih.
You might be interested :
Trump Ingin Perang Gaza Diakhiri sebelum Ia Menjabat Kembali sebagai Presiden Amerika
Ia mengatakan bahwa hampir 25.000 nyawa telah hilang dalam sebulan terakhir, dengan sebagian besar korban adalah tentara.
“Saya ingin melihat pembunuhan berhenti... sebagian besar, 25.000 tentara tewas bulan lalu. Saya ingin sekali melihatnya berhenti. Dan kami bekerja sangat keras,” katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Week, Jumat, 12 Desember 2025.
“Saya berharap pertumpahan darah ini berhenti. Angkanya sangat mengejutkan, dan konflik ini harus segera berakhir,” lanjut Trump.
Menurutnya, eskalasi berpotensi menyebabkan bencana global. “Hal-hal seperti ini berujung pada perang dunia ketiga. Dan saya mengatakan itu beberapa hari yang lalu. Saya berkata, Semua orang terus bermain-main seperti ini. Kita akan berakhir dalam perang dunia ketiga, dan kita tidak ingin itu terjadi,” tegasnya.
Presiden AS juga menunjukkan kekecewaannya atas kurangnya kemajuan dalam perundingan perdamaian, yang berlangsung selama empat tahun.
Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Caroline Levitt, presiden tidak puas dengan janji-janji belaka dari para pejabat Rusia dan Ukraina.
“Presiden sangat frustrasi dengan kedua pihak dalam perang ini. Dia muak dengan pertemuan yang hanya sekadar pertemuan. Dia tidak menginginkan pembicaraan lagi. Dia menginginkan tindakan. Dia ingin perang ini berakhir,” katanya.
Trump juga mengatakan bahwa pemerintahannya mendorong rencana perdamaian 28 poin yang bertujuan untuk menghentikan perang di Ukraina.
Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah menyatakan ketidakpuasannya terhadap rencana ini, dan mengusulkan rencana alternatif 20 poin.
Salah satu alasan Zelenskyy menolak rencana Trump adalah karena ia tidak setuju untuk menyerahkan wilayah Donbas kepada Rusia.
Zelenskyy terbuka untuk membahas rencana yang lebih luas untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi dalam kemitraan dengan AS, tetapi mengatakan bahwa konsesi teritorial apa pun perlu disetujui melalui referendum nasional.
Sebelumnya, Zelenskyy mengindikasikan bahwa poin perselisihan lainnya adalah tata kelola pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang saat ini berada di bawah kendali Rusia.
Levitt selanjutnya menegaskan bahwa pemerintahan Trump terlibat dalam upaya perdamaian.
