
UPdates - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
You may also like :
Istri Sudah Terbunuh, Trump Bilang ‘Tidak Senang’ Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
Trump mengancam akan menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi. Unggahan ini dipublikasikan pada 21 Maret 2026.
You might be interested :
AS Tawarkan Hadiah hingga Rp169 Miliar untuk Informasi tentang Mojtaba Khamenei
"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!"
Saat ini harga bahan bakar global melonjak sejak pecahnya perang AS-Israel dan Iran.
Harga minyak mentah bahkan telah menembus di atas US$100 per barel — naik hampir 70% sepanjang tahun ini dan hampir 50% dibandingkan tahun lalu setelah blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran.
Selat ini diapit Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) di selatan.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama bagi produsen minyak serta LNG di Timur Tengah, termasuk negara-negara pelanggan mereka.
Minyak yang melintas tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Sejak perang pecah, menurut laporan kantor berita AFP pada 18 Maret, sedikitnya 21 kapal telah terkena serangan, menjadi sasaran, atau melaporkan adanya upaya penyerangan.
Analisis dari data pelayaran Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat sempit tersebut sepanjang bulan Maret ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari.
Berdasarkan data Joint Maritime Information Centre, sebelum perang, sekitar 138 kapal melintasi selat Hormuz setiap hari.
Sebelumnya Trump telah minta bantuan ke negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang mereka ke Selat Hormuz untuk melindungi kapal-kapal dagang, namun permintaannya itu menuai penolakan, di antaranya dari Inggris, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang.