
UPdates - Hari Perjanjian Roem-Royen diperingati setiap tanggal 7 Mei untuk mengenang penandatanganan kesepakatan diplomatik antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta.
You may also like :
Hasil Uji Coba Internasional: Spanyol, Jerman, dan Belanda Menang, Inggris Imbang
Perjanjian ini merupakan langkah krusial dalam mengakhiri konflik bersenjata dan membuka jalan menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.
You might be interested :
Sejarah Hari Ini, 7 Mei: Hari Kesadaran Kanker Kandung Kemih
Perundingan ini dipicu oleh kebuntuan politik dan militer setelah Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, yang menyebabkan jatuhnya Yogyakarta dan penangkapan pemimpin Republik seperti Soekarno dan Hatta.
Tekanan internasional dari PBB melalui Komisi PBB untuk Indonesia (United Nations Commission for Indonesia atau UNCI) akhirnya mendesak kedua pihak untuk kembali ke meja diplomasi.
Diplomasi dimulai pada 14 April 1949 dan mencapai kesepakatan pada 7 Mei 1949.
Nama perjanjian diambil dari ketua delegasi masing-masing, yaitu Mohammad Roem (Indonesia) dan Herman van Roijen (Belanda).
Poin-poin utama kesepakatan tersebut meliputi:
Pihak Indonesia setuju untuk menghentikan perang gerilya dan bekerja sama dalam memulihkan perdamaian, sementara pihak Belanda setuju untuk membebaskan tahanan politik tanpa syarat, mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta, dan menghentikan seluruh operasi militer.
Kedua pihak juga sepakat untuk menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag untuk mempercepat pengakuan kedaulatan penuh.
Perjanjian Roem-Royen dianggap sebagai titik balik perjuangan diplomasi Indonesia karena berhasil memaksa Belanda mengakui eksistensi Republik Indonesia kembali setelah sebelumnya mencoba menghapuskannya melalui agresi.