Amanda Maria Souza de Oliveira berpose dengan botol bayi. (Foto: Newsflash/NX)

Ngaku Umur 12 dan Pakai Dot Bayi, Wanita 38 Tahun Ditangkap karena Penipuan Adopsi

21 August 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates—Seorang wanita ditangkap karena berpura-pura menjadi anak-anak dan menipu pasangan agar mau merawatnya selama lebih dari satu tahun.

You may also like : janggut dipotong metroJanggutnya Hilang saat Bangun Tidur, Pria Lapor Polisi dan Viral

Amanda Maria Souza de Oliveira diduga menipu pasangan tersebut untuk mendapatkan kamar tidur sendiri yang penuh dengan mainan, bahkan membuat mereka mengadakan pesta ulang tahun ke-12 untuknya, padahal ia sebenarnya berusia 38 tahun.

You might be interested : elon musk afpMerasa Sedang Pacaran dengan Elon Musk, Nenek Berusia 65 Tahun di Jepang Tertipu Rp203 Juta

Ia didakwa melakukan penipuan dan pemalsuan identitas karena diduga tinggal di rumah keluarga tersebut selama 14 bulan dengan menyamar sebagai gadis rentan yang usianya 26 tahun lebih muda.

Dalam sidang di Joinville, wilayah utara Santa Catarina, Brasil, keterangan didengarkan dari pasangan yang menampung Amanda, putra mereka, seorang petugas polisi, para ahli, serta dua profesional yang dihadirkan oleh pihak pembela.

Jaksa menuduh Amanda menciptakan identitas bernama Gabriele Ferreira dos Santos dan awalnya mengaku berusia 11 tahun sebelum kemudian mengklaim berusia 12 tahun.

Ia diduga mendekati sebuah komunitas keagamaan setelah mengaku kabur dari rumah akibat perlakuan buruk dan tidak membawa kartu identitas.

Keluarga tersebut percaya bahwa mereka sedang membantu seorang anak yang mengalami trauma dan akhirnya memperlakukannya seperti anak sendiri; mereka menyiapkan kamar tidur yang dihiasi lukisan anak-anak serta membiayai kebutuhan hidupnya.

Mereka bahkan mengadakan pesta untuk merayakan apa yang mereka yakini sebagai ulang tahunnya yang ke-12.

Menurut penyelidik, Amanda menggunakan suara seperti anak kecil, mainan anak-anak, empeng, dan botol susu bayi untuk mempertahankan tipu muslihat tersebut.

Ia juga mengaku menderita autisme dan mengatakan bahwa penampilan fisiknya yang tampak dewasa adalah akibat dari pemberian hormon secara paksa saat masa kanak-kanak.

Amanda mengakui telah berbohong mengenai identitasnya namun membantah memiliki niat untuk menipu siapa pun.

"Jelas bahwa saya menipu orang-orang, saya berbohong. Namun, saya tidak berniat menipu siapa pun," katanya kepada polisi sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Metro, Jumat, 21 Agustus 2026.

Pengacara pembelanya, Lucio Sousa, berargumen pada pembukaan sidang bahwa Amanda tidak menyebabkan kerugian finansial dan menyatakan bahwa identitas palsu tersebut justru merupakan strategi untuk bertahan hidup.

"Itu adalah cara yang ia temukan untuk bertahan hidup. Namun, ia telah menjadi sosok yang rentan selama lebih dari 20 tahun," jelas Sousa.

Ia menambahkan bahwa tidak ada tuduhan yang menyatakan Amanda memperoleh keuntungan finansial melalui perampokan atau pencurian, seraya berargumen bahwa unsur-unsur tindak pidana penipuan tidak terpenuhi.

Pengacara Amanda, Sarita de Paiva, mengatakan kepada wartawan bahwa kliennya telah memberi tahu penyelidik bahwa ia mencari perhatian, kasih sayang, dan perlindungan yang tidak ia dapatkan semasa kecil.

De Paiva juga mengatakan bahwa Amanda meyakini jika ia mengungkapkan dirinya adalah orang dewasa, ia tidak akan lagi menerima perhatian dan perawatan yang sama.

Namun, polisi menyatakan bahwa kasus di Joinville hanyalah kejadian terbaru dari pola perilaku yang sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Pekerja sosial Delma Soares mengatakan bahwa Amanda pernah tinggal bersamanya di Belo Horizonte pada tahun 2017 dengan menggunakan nama Karolina dan menampilkan diri sebagai remaja yang rentan.

Delma menuturkan bahwa Amanda menghubunginya setelah sebuah presentasi dan bertanya apakah ia membantu orang-orang yang menjadi korban prostitusi dan kekerasan terhadap anak.

"Postur tubuh dan perilakunya seperti remaja. Dia suka mengenakan pakaian anak-anak dengan desain kekanak-kanakan," ungkap Delma.

Pekerja sosial tersebut kemudian mulai curiga; ia menilai kekuatan fisik Amanda dan perubahan perilaku yang tiba-tiba tidak sesuai dengan usia yang diakui Amanda.

"Saat saya mengatakan dia adalah orang dewasa, orang-orang mengira saya keliru. Saya tidak punya bukti, hanya keyakinan yang terbentuk selama tinggal bersamanya," kata Delma.

Amanda dilaporkan tiba di lokasi proyek dengan luka akibat jarum dan potongan kawat, lalu dibawa ke rumah sakit; pemeriksaan medis menemukan adanya benda-benda asing di dalam tubuhnya.

Korban lain yang diduga tertipu, seorang ahli gizi bernama Renata Magalhaes, mengatakan bahwa Amanda menggunakan nama Duda saat mereka bertemu di Rio de Janeiro pada tahun 2023 dan mengaku sebagai remaja autis yang pernah mengalami kekerasan.

Renata mengatakan bahwa dugaan penipuan itu dirancang dengan cermat melalui perilaku kekanak-kanakan, gambar-gambar, dan episode emosional.

"Ponselnya penuh dengan riwayat pencarian. Dia mencari tahu bagaimana perilaku penyandang autisme dan cara membuat gambar yang bisa menggugah perasaan kaum evangelis," beber Renata.

Renata juga menduga bahwa Amanda sengaja memasukkan jarum ke dalam tubuhnya sendiri dan kemudian memuntahkannya di hadapan Renata.

"Dia memuntahkan jarum itu. Dia muntah, dia melakukannya tepat di depan saya. Itu sungguh aneh," ujar Renata.

Ia menambahkan, "Saya melihat banyak orang tertawa dan melontarkan lelucon di internet, tetapi dia adalah seorang penipu, seorang narsisis, wanita yang berbahaya."

“Dia adalah sosok yang mengenakan karakter layaknya mengenakan mantel dan menciptakan narasi yang sepenuhnya palsu,” tandasnya.

Seorang psikolog yang bertemu Amanda di Recife pada tahun 2023 mengatakan bahwa perempuan itu juga membawa boneka beruang, berbicara dengan suara kekanak-kanakan, dan mengaku pernah mengalami pelecehan seksual.

“Dia menunjukkan perilaku kekanak-kanakan melalui bahasa tubuh dan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil, namun kami bisa melihat ciri-ciri sosok wanita dewasa,” kata psikolog tersebut.

“Kami bisa melihat adanya unsur sandiwara di situ; hal itu bukanlah sesuatu yang tulus atau alami,” tegasnya.

Amanda juga diduga menggunakan identitas lain, yakni Emily, saat berada di Parana selama pandemi Covid-19, dengan mengaku sebagai gadis berusia 13 tahun yang menderita leukemia stadium akhir.

Seorang wanita yang menjalin ikatan emosional dengan sosok yang diduga sebagai anak tersebut bahkan dilaporkan membuat tato nama "Emily" di pergelangan tangannya.

Dalam kasus lain di Jundiai, Sao Paulo, pada tahun 2022, Amanda diduga mengaku bernama Ana Clara dos Santos Oliveira, mengklaim lahir pada tahun 2009, dan memberi tahu pihak berwenang bahwa ia telah melarikan diri dari sebuah rumah prostitusi tempat ia diduga mengalami eksploitasi seksual sejak kecil.

Amanda ditangkap di rumah keluarga di Joinville pada tanggal 2 Juni dan terus berada dalam tahanan sejak saat itu.

Hakim menyatakan bahwa permohonan pembebasan Amanda akan dipertimbangkan bersamaan dengan pembacaan putusan, yang diperkirakan akan keluar dalam waktu lima hari.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

capture

Mark Twain

"Rahasia untuk maju adalah memulai."
Load More >