
UPdates—Amerika Serikat (AS) memberi tahu Israel bahwa otorisasi yang memungkinkan Tel Aviv untuk beroperasi tanpa batasan di Lebanon telah berakhir.
You may also like :
2 Rudal Serang Diego Garcia yang Jaraknya 4.000 Km dari Iran, Pakar Ingatkan Kota di Eropa Waspada, Iran Membantah
Media Israel, Channel 13 mengutip seorang pejabat senior Israel yang tidak disebutkan namanya mengungkap hal itu pada hari Senin waktu setempat.
You might be interested :
Hasil Piala Dunia: AS 4-1 Paraguay
Menurut sumber tersebut, Israel menerima pesan dari AS dalam beberapa minggu terakhir bahwa otorisasi sebelumnya untuk tindakan tanpa batasan di Lebanon telah berakhir.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Selasa, 23 Juni 2026, Channel 13 mengatakan Presiden AS Donald Trump menerapkan pembatasan pada Israel, tidak hanya di Lebanon tetapi juga di arena lain.
Pembatasan operasi ini muncul meskipun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel di Lebanon selatan memiliki kebebasan bertindak sepenuhnya.
Menurut media tersebut, kepemimpinan politik Israel telah mengeluarkan arahan resmi kepada militer yang menguraikan ruang lingkup pergerakan yang diperbolehkan dan dilarang di Lebanon.
“Arahan ini melarang operasi di daerah-daerah seperti ibu kota, Beirut, dan distrik Tyre di Lebanon selatan,” jelasnya.
Sebelumnya pada hari Senin, harian Israel Maariv melaporkan perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai situasi di Lebanon.
Surat kabar tersebut mengatakan bahwa Washington memandang Lebanon selatan dalam konteks regional yang lebih luas yang mencakup Selat Hormuz, harga energi, masalah nuklir Iran, dan kebutuhan pemerintahan Trump untuk mencapai terobosan diplomatik.
Sebaliknya, Israel percaya bahwa penarikan dini dari Lebanon selatan dapat diartikan sebagai “tanda kelemahan” dan hadiah bagi Hizbullah.
Otoritas Lebanon menyebut serangan militer Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, melukai lebih dari 12.000 lainnya, dan menyebabkan lebih dari 1 juta penduduk mengungsi sejak 2 Maret.
Israel terus menduduki wilayah di Lebanon selatan, beberapa di antaranya telah dikuasai selama beberapa dekade dan lainnya direbut selama perang 2023–2024.