
UPdates—Badai geomagnetik kuat terjadi pada 20–21 Januari 2026. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia aman.
You may also like :
Detik-Detik Pesawat Terobos Mata Badai Melissa yang Terkuat di 2025, Kecepatan 282 Km/jam
Menurut BMKG, badai tersebut berdampak terbatas di Indonesia meskipun secara global tercatat mencapai tingkat G4 atau kategori berat.
You might be interested :
BMKG Keluarkan Peringatan Dini 15-17 Januari 2025 di Sulsel, Waspada Bencana Hidrometeorologi
Badai geomagnetik tersebut dipicu aktivitas matahari yang tinggi berupa suar matahari (solar flare) kelas X1.9 pada 18 Januari 2026, yang diikuti lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME) ke arah Bumi.
“Secara global, peringatan badai geomagnetik mencapai level G4. Namun, dampak fisik di wilayah Indonesia relatif lebih rendah karena posisi geografis Indonesia berada di lintang rendah,” kata Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG Syirojudin sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Antara, Selasa, 20 Januari 2026.
Pemantauan BMKG melalui jaringan observatorium magnet Bumi, salah satunya di Tondano, Sulawesi Utara, menunjukkan adanya gangguan magnetik lokal yang sejalan dengan peristiwa global, meskipun intensitasnya teredam oleh kondisi geomagnetik ekuator.
Berdasarkan pengamatan, indeks K lokal di wilayah Tondano tercatat berada pada kisaran K = 8 hingga K = 9 yang mengindikasikan terjadinya badai magnet Bumi besar hingga ekstrem, dengan puncak gangguan terekam sejak dini hari 20 Januari 2026 WIB.
Indeks K dan Indeks A merupakan parameter ilmiah yang digunakan untuk mengukur tingkat gangguan medan magnet Bumi akibat aktivitas Matahari (cuaca antariksa), yang keduanya lazim dipakai oleh BMKG, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dan lembaga geofisika dunia.
Dijelaskan Syirojudin, Indonesia relatif terlindungi dari dampak terburuk badai geomagnetik karena adanya fenomena equatorial electrojet yang berperan sebagai perisai alami terhadap partikel bermuatan energi tinggi dari aktivitas Matahari.
Kendati begitu, BMKG mencatat potensi dampak sementara yang dapat dirasakan di Indonesia, antara lain penurunan akurasi navigasi satelit global positioning system (GPS), gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF), serta fluktuasi pada layanan internet berbasis satelit.
Badai geomagnetik tersebut tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia dan tidak menimbulkan risiko fatal terhadap infrastruktur kelistrikan nasional.
“PLN dan sistem kelistrikan nasional dinilai aman dari risiko fatal akibat badai geomagnetik ini,” ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan meminta operator telekomunikasi serta navigasi untuk memantau kualitas sinyal satelit selama periode gangguan berlangsung.
Syirojudin juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mengikuti informasi resmi terkait aktivitas geomagnetik melalui kanal pemantauan yang disediakan BMKG.