
UPdates—Peneliti China, yang bekerja sama dengan mitra mereka dari AS, telah mengidentifikasi virus baru yang ditularkan melalui kutu.
You may also like :
Perusahaan Negara China Diam-Diam Kirim Material Drone ke Rusia
Ini tampaknya menjadi penyebab ratusan kasus demam yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan di Tiongkok.
You might be interested :
Korban Tewas Banjir Nepal-Tibet Sudah 1.410 Orang, 5.651 Masih Hilang
Patogen baru tersebut, yang diberi nama Asian longhorned tick nairovirus (ALTNV), termasuk dalam genus Orthonairovirus dalam famili Nairoviridae.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari NTD, Jumat, 11 September 2026, temuan ini dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada tanggal 2 September.
Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) dari University of Minnesota juga melaporkan penemuan tersebut.
Infeksi ALTNV dikaitkan dengan penyakit mirip flu yang ditandai dengan demam, kelelahan, gejala gastrointestinal, dan hasil laboratorium yang tidak normal.
Para peneliti juga menemukan bukti bahwa koinfeksi ALTNV dan Dabie bandavirus (DBV) dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius.
Bagaimana Virus Tersebut Ditemukan
Penemuan ini bermula dari sebuah misteri medis.
Di beberapa wilayah Tiongkok, lebih dari 30 persen pasien dengan gejala yang menyerupai severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) menunjukkan hasil tes negatif terhadap DBV, virus yang diketahui menyebabkan penyakit tersebut.
SFTS adalah penyakit yang ditularkan melalui kutu yang dapat menyebabkan demam tinggi dan jumlah trombosit yang rendah secara berbahaya. Tingkat kematian kasus yang dilaporkan berkisar antara 10 hingga 30 persen.
Kasus-kasus yang tidak dapat dijelaskan tersebut mengisyaratkan kemungkinan adanya patogen lain yang sedang menyebar.
Para peneliti mengumpulkan sampel dari pasien yang mengalami demam dan memiliki riwayat paparan kutu di rumah sakit sentinel yang berlokasi di wilayah Tiongkok tempat penyakit yang ditularkan melalui kutu umum terjadi.
Mereka menggunakan teknik pengurutan RNA dan isolasi virus untuk mengidentifikasi patogen tersebut.
Analisis genetik menempatkan ALTNV ke dalam genus Orthonairovirus. Urutan asam aminonya memiliki tingkat kemiripan kurang dari 80,04 persen dibandingkan dengan spesies lain yang diketahui dalam genus tersebut, yang mendukung klasifikasinya sebagai virus yang berbeda.
Para peneliti menguji 3.163 pasien yang mengalami demam dan memiliki riwayat paparan kutu. Secara keseluruhan, 10,4 persen dinyatakan positif ALTNV berdasarkan deteksi RNA virus atau antibodi.
Di antara pasien yang sebelumnya dinyatakan negatif untuk DBV, 15,1 persen dinyatakan positif untuk ALTNV.
Pasien yang hanya terinfeksi ALTNV umumnya mengalami penyakit yang menyerupai influenza. Kelelahan dilaporkan pada 84 persen pasien, gejala gastrointestinal pada 80 persen, jumlah trombosit rendah pada 38 persen, dan peningkatan enzim hati pada 36 persen. Semua pasien yang hanya terinfeksi ALTNV pulih tanpa komplikasi jangka panjang.
Situasinya berbeda pada pasien yang terinfeksi kedua virus tersebut. Dari 38 pasien dengan koinfeksi ALTNV dan DBV, tujuh orang—atau 18,4 persen—meninggal dunia.
Pasien dengan koinfeksi juga menunjukkan tingkat gejala pernapasan dan gangguan fungsi ginjal yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya terinfeksi DBV.
Kutu Pembawa Virus
Para peneliti juga menguji 47.428 kutu yang dikumpulkan dari 15 provinsi di Tiongkok. RNA ALTNV terdeteksi pada 1,29 persen dari kutu-kutu tersebut, dengan tingkat deteksi tertinggi ditemukan pada Haemaphysalis longicornis—yang dikenal luas sebagai kutu bertanduk panjang Asia (Asian longhorned tick)—yaitu sebesar 1,75 persen.
Eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa H. longicornis dapat menularkan ALTNV kepada mencit. Mencit yang terinfeksi mengalami perubahan jaringan dan memproduksi antibodi terhadap virus tersebut.
Temuan ini memberikan bukti bahwa ALTNV adalah virus baru yang ditularkan melalui kutu dan terkait dengan penyakit pada manusia.
Para peneliti menyatakan bahwa fakta mengenai sirkulasi ALTNV dan DBV di wilayah yang sama serta penggunaan vektor kutu yang sama menegaskan perlunya metode pengujian yang lebih baik untuk membedakan kedua infeksi tersebut.
Melibatkan Ilmuwan Militer Tiongkok
Penelitian ini dipimpin oleh tujuh peneliti dari Laboratorium Kunci Negara untuk Patogen dan Biosekuriti (State Key Laboratory of Pathogen and Biosecurity) di Beijing, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Kedokteran Militer (AMMS).
Dua penulis lainnya tercatat memiliki afiliasi langsung dengan AMMS, lembaga penelitian militer tingkat atas di Tiongkok. Kolaborator dari AS mencakup Ellen Owen dari University of Washington dan Jonathan E. Owen dari Emory University.