
UPdates—Di wilayah musuhnya, Amerika Serikat, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato menantang dan sangat berani.
You may also like :
Presiden Brasil: Trump tak Boleh Seenaknya Ngatur Negara Lain
Pada hari Rabu waktu AS, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran tetap terbuka terhadap dialog dan negosiasi, namun tidak akan menerima apa yang ia sebut sebagai "bahasa kekerasan" atau pembicaraan yang dilakukan di bawah ancaman.
You might be interested :
Presiden Suriah Candai Trump untuk Berikan New Jersey ke Israel karena Dataran Tinggi Golan Milik Rakyatnya
Saat berpidato di sesi ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Pezeshkian mengatakan Iran siap untuk berdialog namun tidak akan tunduk pada tekanan.
"Kami tidak akan pernah menundukkan kepala," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Iran siap untuk bernegosiasi asalkan tidak disertai dengan ancaman sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Kamis, 24 September 2026.
Pezeshkian menyebut adanya kemunafikan yang nyata terkait fakta bahwa Israel memiliki senjata nuklir dan bukan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). "Namun para inspektur justru diminta untuk datang ke Iran," tegasnya.
"Mereka (pihak Israel) membunuh, sementara kami yang dikenai sanksi dan dihukum," tambahnya.
Ia menegaskan, Israel telah membunuh lebih dari 70.000 orang tak berdosa di Gaza secara keji. “Namun Iran—yang justru sedang berada di meja perundingan—malah dibom," kecamnya.
Pezeshkian menegaskan kembali klaim Iran bahwa negara itu tidak sedang berupaya memiliki senjata nuklir. Namun, ia menyatakan bahwa Iran memiliki hak "inheren" atas teknologi nuklir untuk tujuan damai.
"Kami tidak akan menundukkan kepala dan melepaskan hak yang secara inheren merupakan milik kami," kata presiden Iran tersebut.
"Kami tegaskan: Tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir untuk tujuan damai," tambahnya.
Sang Presiden juga menegaskan mereka bukan teroris. “Kami bukan teroris, kami adalah korban terorisme,” tegasnya.
Ia juga menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump yang melabeli Iran sebagai sponsor terorisme.
“Kemarin, Trump mengatakan kami adalah teroris. Kami bukan teroris; kami adalah korban terorisme," ujar Pezeshkian di hadapan Majelis Umum, merujuk pada pidato Trump sehari sebelumnya di mana presiden AS tersebut menyebut Iran sebagai sponsor teror nomor satu.
Pezeshkian menyatakan bahwa pemimpin Iran telah dibunuh tanpa pembenaran apa pun, merujuk pada serangan militer AS-Israel terhadap Iran yang dimulai awal tahun ini.
Ia juga menuduh Israel menargetkan kawasan permukiman di berbagai kota dan provinsi Iran serta melakukan pembunuhan terarah, seraya menyebut tindakan semacam itu sebagai perilaku teroris sejati.
"Rakyat Iran telah mempertahankan negara mereka selama tujuh bulan terakhir," ujar Pezeshkian.
Setelah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada bulan April, AS dan Iran menandatangani Nota Kesepahaman Islamabad pada bulan Juni, yang memberikan waktu 60 hari bagi kedua belah pihak untuk membahas kesepakatan jangka panjang.
Namun, kedua belah pihak tak lama kemudian terlibat dalam aksi saling serang balasan; AS kembali memberlakukan blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran menutup Selat Hormuz.