
UPdates - Dua mantan Perdana Menteri (PM) Israel yakni Naftali Bennett (PM Israel periode Juni 2021–Juni 2022) dan Yair Lapid, (PM Israel ke-14 dari Juli hingga Desember 2022) secara resmi mengumumkan akan bergabung untuk melengserkan petahana PM Benjamin Netanyahu.
You may also like :
Api Teror Israel, Netanyahu Umumkan Darurat Nasional dan Minta Bantuan Negara Lain
Yair Lapid yang kini merupakan pemimpin oposisi mengatakan bahwa dirinya dan Bennett akan maju dalam satu daftar gabungan pada pemilu parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 mendatang.
You might be interested :
PM Israel Netanyahu Muncul di Kafe Perlihatkan 5 Jarinya, IRGC Bersumpah Terus Kejar dan Membunuhnya
Dalam unggahan di X pada Minggu, 26 April 2026 waktu setempat, Lapid menyatakan keduanya akan "mengumumkan hari ini langkah pertama dalam proses memperbaiki Negara Israel: penggabungan Yesh Atid dan 'Bennett 2026' menjadi satu partai yang dipimpin mantan Perdana Menteri Naftali Bennett."
"Langkah ini menghadirkan penyatuan Blok Perbaikan, sehingga seluruh upaya dapat difokuskan untuk membawa Israel menuju pemulihan yang dibutuhkan," ucapnya, disadur Keidenesia.TV dari CNNIndonesia, Senin, 27 April 2026.
Lapid dan Bennett merupakan pengkritik vokal Netanyahu, terutama soal perang-perang Israel sejak Oktober 2023 ke Jalur Gaza Palestina.
Lapid bahkan menyebut gencatan senjata dua pekan dengan Iran baru-baru ini sebagai "bencana politik".
Bennett merupakan politikus berhaluan kanan dan dikenal sebagai pendukung lama permukiman Israel di Tepi Barat Palestina yang diduduki. Sementara itu, Lapid yang berhaluan tengah, sebelumnya membentuk pemerintahan koalisi pada Juni 2021.
Pemerintahan itu digantikan pada akhir 2022 oleh administrasi saat ini yang dipimpin Netanyahu, setelah Bennett pada Juni tahun tersebut menyatakan koalisinya sudah tidak lagi dapat dipertahankan. Lapid kemudian sempat menjabat sebagai perdana menteri sementara.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Bennett adalah kandidat yang paling berpeluang mengalahkan Netanyahu dalam pemungutan suara Oktober mendatang.
Bennett, berusia 54 tahun, merupakan putra imigran asal Amerika Serikat dan mantan pengusaha teknologi tinggi. Ia menjual perusahaan rintisannya pada 2005 seharga 145 juta dolar AS.
Sebagai mantan perwira pasukan komando Israel, Bennett memiliki profil yang dinilai menarik bagi sebagian generasi muda negara itu setelah lebih dari dua tahun perang Gaza.
Ia pernah menjadi penasihat Netanyahu, namun seiring waktu berubah menjadi penentang keras kebijakan mantan mentornya tersebut.
Bennett sebelumnya juga pernah memimpin beberapa partai sayap kanan sebelum membentuk pemerintahan persatuan luas pada 2021.
Sementara pasangan politik barunya, Lapid yang berusia 62 tahun, adalah putra mendiang jurnalis sekaligus menteri Tommy Lapid, seorang penyintas Holocaust, dan penulis ternama Shulamit Lapid.
Sebagai jurnalis televisi terkenal, Lapid masuk dunia politik pada 2012 dengan mendirikan Yesh Atid, yang kemudian menjadi kekuatan politik terbesar kedua di Israel.
Sejak saat itu, ia menjabat sebagai pemimpin oposisi, di luar masa singkatnya sebagai perdana menteri.
Netanyahu sendiri masih berencana memimpin partainya dalam pemilu umum yang harus digelar paling lambat akhir Oktober. Jika menang lagi, ia akan menjadi pemimpin negara 'demokrasi' dengan jangka waktu terlama yakni lebih dari 18 tahun dalam beberapa periode berbeda.