
UPdates—Gaza tetap menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi pekerja kemanusiaan selama tiga tahun berturut-turut.
You may also like :
Pasca Kesepakatan Gencatan Senjata, Israel Bombardir Gaza dan Tewaskan 82 Orang
Kantor urusan kemanusiaan PBB pada hari Rabu, 19 Agustus 2026 mengatakan, sebanyak 186 personel bantuan di Gaza tewas pada tahun 2025.
You might be interested :
6 Sandera Israel Ditukar 602 Tahanan Palestina
Sudan menempati peringkat kedua, dengan 71 pekerja kemanusiaan tewas sepanjang tahun tersebut, menurut pernyataan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam rangka memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia.
Di seluruh dunia, 907 pekerja kemanusiaan tewas, terluka, atau diculik pada tahun 2025, mencatatkan rekor baru terkait kekerasan terhadap personel bantuan, menurut data dari Aid Worker Security Database milik Humanitarian Outcomes.
Meskipun jumlah kematian tahunan sedikit menurun menjadi 350 jiwa, kantor urusan kemanusiaan PBB menyatakan bahwa tingkat kekerasan secara keseluruhan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Selain itu, 322 pekerja kemanusiaan terluka dan 235 lainnya diculik.
"Lebih dari 1.000 pekerja kemanusiaan telah tewas hanya dalam kurun waktu tiga tahun, dan hal itu sama sekali tidak dapat diterima," ujar Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menegaskan bahwa sekadar menyuarakan hal ini tidak akan melindungi pekerja kemanusiaan berikutnya.
“Negara-negara harus menjunjung tinggi hukum humaniter internasional dan menggunakan segala cara untuk melindungi warga sipil serta rekan-rekan kami. Dan bagi mereka yang melanggar aturan, harus ada konsekuensi nyata," tegasnya.
Kekerasan terus berlanjut pada tahun 2026, dengan setidaknya 82 pekerja kemanusiaan tewas, 97 terluka, dan 39 diculik di seluruh dunia sejauh ini, menurut kantor urusan kemanusiaan PBB.
Ancaman drone
Pihaknya memperingatkan bahwa penyebaran drone bersenjata yang murah dan mudah dimodifikasi membuat warga sipil dan personel kemanusiaan menghadapi bahaya yang kian meningkat, terutama di wilayah perkotaan.
Drone bersenjata menjadi penyebab 80% kematian warga sipil di Sudan selama empat bulan pertama tahun 2026, dengan serangan yang menyasar berbagai lokasi termasuk pasar dan fasilitas kesehatan, menurut kantor urusan kemanusiaan PBB.
Di Ukraina, serangan pesawat nirawak (drone) menewaskan 80 warga sipil hanya dalam bulan April saja, sementara serangan serupa juga menewaskan warga sipil dan merusak infrastruktur sipil di Rusia.
Serangan yang melibatkan pesawat nirawak bersenjata di Kolombia meningkat empat kali lipat antara tahun 2024 dan 2025.
Para pekerja bantuan semakin sering terjebak dalam serangan semacam itu. Seorang pekerja kemanusiaan tewas akibat serangan pesawat nirawak yang menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di Republik Demokratik Kongo pada bulan Maret. Sementara empat konvoi kemanusiaan terkena serangan di Ukraina hanya dalam kurun waktu satu minggu di bulan Mei.
"Pesawat nirawak bersenjata telah menjadi wajah baru dari bahaya lama: penghancuran kehidupan sipil yang dilakukan secara sengaja ataupun akibat tindakan ceroboh. Teknologi mungkin berubah, namun hukum perang tidak," ujar Fletcher.