
UPdates—Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Singapura ikut mengamati gejolak pasar global, utamanya harga minyak, gas dan BBM.
You may also like :
Trump Sebut Arab Saudi Bisa dengan Mudah Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Menurutnya, meskipun harga energi masih sangat fluktuatif, tetapi dampak buruknya sudah dirasakan oleh semua negara. Termasuk Indonesia.
You might be interested :
SBY Sudah Angkat Suara, Wasekjen Demokrat Minta 4 Pulau Aceh Dipulangkan
Banyak negara, kata dia, termasuk yang ada di Asia, telah melakukan langkah-langkah nyata untuk menyelamatkan ekonominya.
“Caranya berbeda-beda, tetapi saya pandang masuk akal. Hari ini, 25 Maret 2026 saya juga menyimak kebijakan pemerintah Filipina dan Korea Selatan yang disampaikan oleh para presidennya,” kata SBY dalam unggahan di X sebagaimana dilansir Keidenesia.tv, Rabu, 25 Maret 2026.
SBY yang memimpin Indonesia pada periode 2004-2014 menegaskan, Indonesia tidak perlu panik. “Untuk Indonesia, kita tak perlu panik. Meskipun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tidak tepat,” tegasnya.
Ia lantas menceritakan pengalamannya menghadapi krisis. “Waktu memimpin Indonesia dulu saya mengalami krisis yang sama. Meroketnya harga minyak terjadi pada tahun 2004-2005, kemudian tahun 2008 dan yang terakhir tahun 2013,” ujarnya.
Menurut SBY, harga minyak yang meroket sangat memberikan tekanan pada ekonomi saat itu. Fiskal dan defisit APBN melebar, inflasi atau stabilitas harga terguncang dan dampak terhadap kaum tak mampu sangat terasa.
“Meskipun pahit dan tidak mudah, kita pilih kombinasi kebijakan yaitu penambahan subsidi dan penaikan harga BBM. Pemerintah juga melakukan kampanye penghematan energi besar-besaran,” jelasnya.
Diakui SBY, itu bukan langkah yang mudah. “Ketika saya putuskan dan ambil langkah-langkah seperti itu, gelombang pro dan kontranya tinggi sekali. Parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Tapi, akhirnya, ekonomi kita selamat dan masyarakat tidak mampu dapat kita lindungi melalui program BLT,” katanya.
Lebih lanjut, SBY mengatakan dirinya memantau pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga telah mempersiapkan kebijakan dan langkah-langkah yang diperlukan.
Ia menyatakan mendukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi angka defisit anggaran. Untuk menyelamatkan APBN 2026 pada khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya, beberapa opsi kata dia dapat dipilih oleh pemerintah.
“Yang penting ekonomi kita selamat, termasuk terjaganya pertumbuhan (growth), terkelolanya inflasi (stabilitas harga) dan tercegahnya PHK besar-besaran (job security),” tegasnya.
“Dan yang sangat penting adalah tetap terlindunginya saudara-saudara kita kaum tak mampu yang pasti hidup mereka makin sulit,” tandasnya.