
UPdates—Indonesia menghadapi ancaman nyata dari kombinasi gempa megathrust di zona subduksi Sumatra-Jawa dan sesar aktif di wilayah back-arc basin seperti Sesar Kendeng dan Sesar Baribis.
You may also like :
Mal Baru Diresmikan Terbakar, 55 Orang Tewas di Irak
Ancaman itu ditambah adanya fenomena blind thrust fault di Jakarta yang tertutup sedimen sehingga sulit terdeteksi, serta dampak aktivitas manusia seperti penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah dan penurunan permukaan air Danau Toba akibat perubahan iklim.
You might be interested :
Viral Dimaki dan Disoraki saat Muncul, 16 Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual Minta Maaf
Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang baru dikukuhkan, Prof. Drs. Mohammad Syamsu Rosid, M.T., Ph.D menyampaikan temuan ini.
Temuan yang menekankan bahwa stabilitas geologi Indonesia tengah berada di titik kritis dan membutuhkan mitigasi berbasis sains ini disampaikan oleh Prof. Rosid dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di bidang Geofisika.
Pengukuhan itu bertajuk “Mitigasi Bencana Geologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam terhadap Aktivitas Manusia dan Kebijakan Pembangunan”.
Prof. Rosid menekankan bahwa ancaman bencana tidak hanya berasal dari megathrust, tetapi juga dari gempa-gempa dangkal di daratan yang daya rusaknya tinggi.
“Kita tidak boleh hanya terpaku pada megathrust. Gempa di wilayah back-arc seperti Sesar Kendeng dan Sesar Baribis memiliki hiposenter dangkal. Meski energinya lebih kecil, daya rusaknya sangat tinggi, seperti yang kita lihat pada kasus gempa Cianjur 2022,” ujarnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website resmi UI, Kamis, 16 April 2026.
Selain dinamika tektonik, ia menyoroti ulah manusia yang memperparah risiko. Di Jakarta, penurunan muka tanah mencapai lebih dari 10 cm per tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan.
“Bumi tidak bernegosiasi. Ketika keseimbangan terganggu, bumi merespons melalui bencana. Pertanyaannya, mampukah kita melandaikan laju penurunan tanah di Jakarta seperti yang berhasil dilakukan di Tokyo dan Osaka?” tanyanya.
Fenomena serupa juga terjadi di Danau Toba, di mana permukaan air turun rata-rata 24 mm per tahun selama enam dekade terakhir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Sebagai solusi, Prof. Rosid menawarkan pendekatan berbasis teknologi geofisika seperti metode geolistrik untuk mendeteksi bidang gelincir di daerah rawan longsor pegunungan, prinsip geomekanik dalam pengelolaan energi panas bumi agar tidak memicu deformasi tanah, serta metode Vertical Gradiometric Gravity (VGG) untuk memetakan struktur patahan bawah permukaan di wilayah perkotaan.
“Bencana geologi sering kali bukan hanya persoalan alam, tetapi soal bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Kita tidak bisa mencegah gempa, tapi kita bisa mengurangi risikonya melalui ilmu pengetahuan dan kebijakan pembangunan yang berbasis keseimbangan alam,” tegasnya.
Pengukuhan ini menegaskan peran strategis akademisi dalam membaca sistem bumi dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan nyata. Prof. Rosid menekankan bahwa pembangunan harus dilakukan dengan prinsip pemanfaatan sumber daya alam tanpa melampaui batas keseimbangannya.
Dengan riset mendalam dan kebijakan yang bijak, Indonesia diharapkan mampu menghadapi ancaman megathrust, sesar tersembunyi, dan dampak aktivitas manusia, sekaligus menjaga keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang.
Pengukuhan Prof. Rosid sebagai Guru Besar Tetap semakin memantapkan kualitas UI sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul secara akademik, dengan melahirkan pakar-pakar brilian yang berdampak nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat luas.