
UPdates—Israel membebaskan seluruh aktivis armada bantuan Gaza setelah mendapat tekanan dari dunia internasional, termasuk sembilan warga Negara Indonesia (WNI).
You may also like :
Israel Memulai Serangan Besar-besaran di Gaza, 300 Orang Diperkirakan Tewas
Pasukan Israel menyerang misi bantuan tersebut di perairan internasional pada hari Senin dan menahan semua aktivis yang ada di kapal.
You might be interested :
Trump Klaim AS Beri Hamas Pembeli Kondom Rp811 Miliar, Pakar: Tidak Masuk Akal
Armada kapal, yang membawa 428 orang dari 44 negara itu berangkat Kamis lalu dari distrik Marmaris di Turki dalam upaya baru untuk menerobos blokade ilegal Israel yang diberlakukan di Jalur Gaza sejak 2007.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengonfirmasi pembebasan sembilan WNI tersebut.
Aktivis yang ikut berlayar dalam misi kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla (GSF) ke Jalur Gaza itu saat ini dalam perjalanan ke Turki.
"Pemerintah Indonesia dengan penuh rasa syukur menyampaikan bahwa sembilan WNI yang ditangkap oleh militer Israel dalam pencegatan kapal dan penangkapan relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0 saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, dan akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Air," kata Sugiono dalam keterangan ke awak media sebagaimana dilansir Keidenesia.tv, Kamis, 21 Mei 2026.
Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses pemulangan ini. “Hingga seluruh WNI tiba kembali ke Tanah Air dengan selamat," ujar Sugiono.
Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Turki atas peran aktif dan dukungan penuh dalam memfasilitasi proses pemulangan ini.
Melansir akun Instagram Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sembilan WNI yang ditangkap Israel yakni Bambang Noroyono alias Abeng (jurnalis Republika), Thoudy Badai (jurnalis Republika), Herman Budianto Sudarsono (Aktivis Kemanusiaan), Ronggo Wirasanu (Aktivis Kemanusiaan), Andi Angga Prasadewa (Aktivis Kemanusiaan), Aras Asad Muhammad (Aktivis Kemanusiaan), Hendro Prasetyo (Aktivis Kemanusiaan), Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis), dan Rahendro Herubowo (Jurnalis).