Ilustrasi skema penyebaran virus Nipah dari hewan ke manusia. (Foto: Kemenkes)

Kemenkes Terbitkan SE Kewaspadaan Virus Nipah, Ini Gejala dan Cara Cegahnya

2 February 2026
Font +
Font -

UPdates—Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap Penyakit Virus Nipah dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/445/2026.

You may also like : captureSejarah Hari Ini, 25 Januari: Hari Gizi Nasional

SE ini ditujukan kepada seluruh pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium kesehatan masyarakat, serta unit kekarantinaan kesehatan di Indonesia sebagai langkah antisipatif terhadap potensi masuk dan penularan penyakit zoonotik tersebut .

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Murti Utami dalam Surat Edaran tersebut menegaskan bahwa kewaspadaan perlu diperkuat meskipun hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi Penyakit Virus Nipah pada manusia di Indonesia.

"Hal ini didasarkan pada tingginya tingkat kematian penyakit tersebut yang dilaporkan mencapai 40–75 persen, serta karakteristik klinis yang dapat berkembang dari infeksi saluran pernapasan akut ringan hingga ensefalitis yang berakibat fatal," jelas Murti Utami dalam edaran tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv, Senin, 2 Februari 2026.

Penyakit Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah, anggota genus Henipavirus dari famili Paramyxoviridae.

Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.) dan dapat menular ke manusia secara langsung, melalui perantara hewan lain seperti babi, maupun melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, termasuk buah dan nira.

Penularan antar manusia juga telah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita.

Secara global, wabah pertama Virus Nipah tercatat pada 1998–1999 di Desa Sungai Nipah, Malaysia, yang kemudian menyebar ke Singapura.

Kasus pada manusia juga pernah dilaporkan di India, Bangladesh, dan Filipina. Sejak 2001 hingga 2026, kasus Virus Nipah dilaporkan secara sporadis di Bangladesh dan India .

Di India, infeksi Virus Nipah telah terjadi berulang sejak 2001, termasuk wabah di Negara Bagian West Bengal pada 2001 dan 2007, serta di Negara Bagian Kerala sejak 2018.

Pada 14 Januari 2026, India kembali melaporkan kasus konfirmasi di West Bengal. Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua kasus konfirmasi tanpa kematian di Distrik North 24 Parganas, seluruhnya merupakan tenaga kesehatan, dengan lebih dari 120 kontak erat yang telah diidentifikasi dan menjalani karantina. Investigasi epidemiologis masih terus berlangsung .

Murti Utami menekankan bahwa Indonesia tetap memiliki potensi risiko mengingat kedekatan geografis dan tingginya mobilitas penduduk dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa Virus Nipah.

Selain itu, hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.), yang menandakan potensi sumber penularan di dalam negeri .

Melalui Surat Edaran ini, Kementerian Kesehatan menginstruksikan penguatan surveilans penyakit, peningkatan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan, pengawasan di pintu masuk negara, serta pengendalian faktor risiko berbasis pendekatan one health.

“Kewaspadaan bersama dan kepatuhan terhadap pedoman pencegahan menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari potensi ancaman penyakit infeksi emerging,” demikian penegasan Dirjen Penanggulangan Penyakit dalam Surat Edaran tersebut.

Pemerintah Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah. Meski belum ditemukan kasus di Indonesia, potensi dampak serius terhadap kesehatan masyarakat menuntut langkah pencegahan sejak dini.

Virus Nipah diketahui dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi air liur atau kotoran kelelawar, serta melalui kontak erat dengan penderita.

Penularan antar manusia juga dapat terjadi, terutama dalam lingkungan perawatan kesehatan atau keluarga.

Kemenkes menjelaskan, gejala awal Virus Nipah sering kali menyerupai penyakit infeksi pernapasan dan gangguan saraf. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam, batuk, pilek, sesak napas, hingga muntah dan kelelahan hebat.

Pada kasus yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan neurologis seperti penurunan kesadaran, kejang, dan peradangan otak atau ensefalitis.

Sebagai langkah pencegahan, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, melalui surat edaran mengimbau masyarakat untuk menerapkan upaya perlindungan mandiri.

Masyarakat diminta menghindari konsumsi nira atau aren yang diambil langsung dari pohon serta memastikan nira dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.

Selain itu, masyarakat dianjurkan mencuci dan mengupas buah sebelum dimakan, serta membuang buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar.

Daging ternak juga harus dimasak hingga matang sempurna untuk mencegah risiko penularan.

Kemenkes juga menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, serta memakai alat pelindung diri ketika melakukan kontak dengan hewan ternak yang berisiko.

Di sisi pelayanan kesehatan, Kemenkes menginstruksikan seluruh dinas kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas di Indonesia untuk memperketat pemantauan terhadap pasien dengan gejala menyerupai meningitis atau pneumonia berat.

Langkah ini dilakukan untuk memperkuat deteksi dini dan respons cepat jika ditemukan indikasi penyakit infeksi emerging.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kemenkes meminta publik selalu merujuk pada kanal resmi pemerintah untuk memperoleh informasi yang akurat dan terkini mengenai perkembangan Virus Nipah.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

ga warren buffett 20210203 0001

Warren Buffett

"Kejujuran adalah hadiah yang sangat mahal. Jangan berharap dari orang-orang murahan."
Load More >