(foto:Dok.Panitia)

Kolaborasi Pecinta Alam Sulsel Serukan Perlindungan Serius Gunung Bawakaraeng

24 July 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Kolaborasi organisasi mahasiswa pecinta alam dan organisasi lingkungan di Sulawesi Selatan menggelar Dialog Publik dan Pameran Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng untuk menyerukan perlindungan serius terhadap gunung tersebut.
  • Pameran menampilkan dokumentasi kerusakan kawasan, seperti penumpukan sampah, pembukaan jalur pendakian yang tidak terkendali, dan perubahan bentang alam.
  • Pemerhati Gunung Bulu Bawakaraeng, Nevy James Tonggiroh, menilai kerusakan gunung disebabkan oleh tata kelola yang belum memahami karakteristik gunung dan belum adanya regulasi khusus untuk perlindungan gunung di Indonesia.
  • Diskusi menyoroti pentingnya kajian ilmiah sebelum pembangunan fasilitas di kawasan gunung dan perlindungan yang melibatkan masyarakat lokal serta organisasi mahasiswa pecinta alam.
  • Ketua Umum Mapalasta UIN Alauddin Makassar, Alamsyah Adam, menegaskan bahwa dialog publik ini menjadi langkah awal membangun gerakan bersama untuk mengawal perlindungan Gunung Bulu Bawakaraeng.
  • Kegiatan ini diinisiasi oleh beberapa organisasi mahasiswa pecinta alam dan yayasan untuk membangun kesadaran publik dan mendorong perlindungan yang lebih serius terhadap Gunung Bulu Bawakaraeng.
  • Tujuan kegiatan ini adalah membangun kesadaran publik dan mendorong perlindungan berkelanjutan bagi kawasan gunung, termasuk Gunung Bulu Bawakaraeng.
atau

UPdates - Keprihatinan terhadap kondisi Gunung Bulu Bawakaraeng yang dinilai terus mengalami kerusakan mendorong kolaborasi organisasi mahasiswa pecinta alam dan organisasi lingkungan di Sulawesi Selatan menggelar Dialog Publik dan Pameran Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng bertema "Gunung Bulu Bawakaraeng Rusak, Siapa yang Bertanggung Jawab?" di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar, 22–23 Juli 2026.

Melalui pameran foto, panitia menampilkan dokumentasi kerusakan kawasan, mulai dari penumpukan sampah, pembukaan jalur pendakian yang tidak terkendali, pendakian massal, penebangan pohon, hingga perubahan bentang alam.

Pameran juga menampilkan maket tiga dimensi Gunung Bulu Bawakaraeng berbasis peta topografi tahun 1924 yang memperlihatkan kondisi kawasan sebelum longsor besar mengubah morfologi gunung.

You might be interested : img 20250817 wa00484.172 Pendaki Tujuhbelasan di Gunung Bawakaraeng, 32 Trouble, 1 Meninggal Dunia

Dalam dialog publik, pemerhati Gunung Bulu Bawakaraeng, Nevy James Tonggiroh menilai kerusakan gunung tidak hanya dipicu aktivitas manusia, tetapi juga akibat tata kelola yang belum memahami karakteristik gunung.

"Salah satu penyebab kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng adalah karena salah urus. Gunung seharusnya diurus dengan ilmu gunung, bukan semata pendekatan kehutanan atau lingkungan," ujarnya.

Nevy juga mempertanyakan belum adanya regulasi khusus yang mengatur perlindungan gunung di Indonesia. Menurutnya, ketiadaan pendekatan berbasis ilmu gunung menyebabkan kebijakan pengelolaan belum mampu menjawab persoalan yang dihadapi kawasan pegunungan.

Diskusi turut menyoroti pembangunan sejumlah fasilitas di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng yang dinilai seharusnya didahului kajian ilmiah agar tidak mengganggu karakteristik kawasan.

Peserta juga mendorong agar perlindungan dan pemulihan gunung melibatkan masyarakat lokal serta organisasi mahasiswa pecinta alam yang memiliki pengalaman lapangan dalam konservasi, edukasi, penelitian, dan pengawasan kawasan.

Pada hari kedua, panitia mengundang BBKSDA Sulawesi Selatan, Pusdal LH SUMA, dan DLHK Sulawesi Selatan sebagai narasumber. Sayangnya, ketiga instansi tersebut tidak hadir, namun forum tetap berlangsung bersama sekitar 80 peserta dari unsur mahasiswa, komunitas, akademisi, dan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Mapalasta UIN Alauddin Makassar, Alamsyah Adam, menegaskan bahwa dialog publik ini menjadi langkah awal membangun gerakan bersama untuk mengawal perlindungan Gunung Bulu Bawakaraeng melalui penguatan kajian ilmiah, evaluasi tata kelola, restorasi ekosistem, serta lahirnya kebijakan yang memberikan perlindungan berkelanjutan bagi kawasan gunung.

"Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran publik sekaligus mendorong perlindungan dan pemulihan yang lebih serius terhadap Gunung Bulu Bawakaraeng. Mari bersama ambil bagian dalam memberi perlindungan berkelanjutan bagi kawasan gunung, termasuk kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng," jelas Alamsyah Adam.

Kegiatan ini diinisiasi Mapalasta UIN Alauddin Makassar bersama Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Mapala Tingkat Perguruan Tinggi se-Sulawesi Selatan, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Handayani, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Islam Makassar, WIRPALA Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan, UKM PA Equilibrium FEB Universitas Hasanuddin, MAPALA YPUP Makassar, MAKESPALA STIKES Nani Hasanuddin Makassar, MAPALA Universitas Tamalatea Makassar, MAPALA Veteran UPRI Makassar, MAPALA Unismuh Makassar, serta Yayasan Bumi Toala Indonesia.

 

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >