Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, KH Marsudi Syuhud (Foto: MUI Digital)

Kongres Umat Islam Indonesia ke-VIII Bahas Hukuman Mati Koruptor

21 July 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII akan membahas sejumlah isu strategis, termasuk wacana hukuman mati bagi koruptor dan tata kelola pertambangan.
  • KUII VIII akan dihadiri oleh 87 organisasi Islam di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk merumuskan gagasan membangun bangsa.
  • Pembangunan nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan masyarakat, sehingga KUII VIII menjadi ruang dialog terbuka antara umat dan pemerintah.
  • MUI telah menyiapkan draf regulasi untuk beberapa isu yang akan dibahas dalam kongres, termasuk pemberantasan korupsi dan pengelolaan sektor pertambangan.
  • KUII VIII juga akan membahas isu-isu kekinian lainnya, seperti rancangan regulasi, dan memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan kritik dan masukan secara langsung kepada pemerintah.
  • Pemerintah, termasuk para menteri dan lembaga negara, akan diundang untuk menjelaskan kebijakan yang telah dan akan dijalankan, serta menerima masukan dari organisasi-organisasi Islam.
  • Kongres ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk membangun bangsa dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dan menyepakati langkah-langkah yang efektif untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi.
atau

UPdates—Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi Islam.

Kongres yang rencananya akan dibuka Presiden Prabowo Subianto ini juga akan jadi ruang dialog terbuka antara umat dan pemerintah.

Sejumlah isu strategis, mulai dari wacana hukuman mati bagi koruptor, tata kelola pertambangan, hingga rancangan regulasi, akan menjadi pembahasan dalam forum yang berlangsung 26-28 Juli 2026 tersebut.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI, KH Marsudi Syuhud, mengatakan KUII VIII akan menghimpun 87 organisasi Islam yang berada di bawah naungan MUI untuk bersama-sama merumuskan gagasan membangun bangsa.

Kiai Marsudi menegaskan, pembangunan nasional tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah ataupun masyarakat secara terpisah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

"Selama tiga hari ini berkumpul umat Islam seluruh Indonesia yang diwakili oleh 87 organisasi di bawah one umbrella Majelis Ulama Indonesia untuk melaksanakan Kongres Umat Islam Indonesia yang ke-VIII. Pada prinsipnya membangun bangsa itu tidak bisa sendirian, tidak bisa pemerintahnya saja atau bahkan masyarakat bangsanya saja," ujarnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari MUI Digital, Selasa, 21 Juli 2026.

MUI sengaja menghadirkan unsur pemerintah, mulai dari para menteri hingga berbagai lembaga negara, agar dapat menjelaskan kebijakan yang telah dan akan dijalankan kepada para pimpinan organisasi Islam.

Forum tersebut juga menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan kritik dan masukan secara langsung.

"Jika masih ada yang kurang dalam pelaksanaannya, maka di arena ini bisa langsung disampaikan kritik-kritik yang membangun, disampaikan ide-ide yang paling tepat dan paling bagus secara langsung,” ujarnya.

“Membangun bangsa ini mengkritiknya tidak cukup hanya di jalan raya. Betapapun itu penting, tetapi model duduk bersama semacam kongres ini juga penting, adu argumen dan adu gagasan dari tokoh-tokoh, baik akademisi, para kiai, cendekiawan, praktisi, dan lainnya," lanjutnya.

Ketua Steering Committee (SC) KUII VIII 2026 itu mengungkapkan, sejumlah rekomendasi yang akan dibahas dalam kongres bahkan telah disiapkan dalam bentuk draf regulasi oleh MUI.

Draf tersebut nantinya akan dibahas bersama peserta kongres sebelum diserahkan kepada pemerintah.

"Beberapa item yang tadi saya sampaikan nanti dibahas. Bahkan drafting undang-undangnya sudah dibuat oleh MUI, tinggal diserahkan nanti pada acara itu. Dibahas juga di KUII dan akan diserahkan," ujarnya.

Selain itu, isu pemberantasan korupsi, termasuk wacana hukuman mati bagi koruptor yang sempat menjadi perhatian publik, dipastikan masuk dalam agenda pembahasan KUII VIII.

"Isu-isu kekinian itu akan dibahas di situ. Makanya kita undang pemerintah, eksekutif, yudikatif, sampai Kapolri dan Panglima juga diundang. Karena di sinilah letak membangun bangsa itu. Ini sebagai alasan bahwa membangun bangsa suatu keharusan, maka dari stakeholder bangsa ini diikutkan untuk membangun," tuturnya.

Isu pengelolaan sektor pertambangan juga akan menjadi salah satu topik penting dalam kongres. Menurutnya, Menteri yang membidangi urusan pertambangan akan diminta memaparkan pandangan pemerintah, sementara organisasi-organisasi Islam diberikan ruang menyampaikan sikap masing-masing.

"Tentang tambang, ada semua di situ. Nanti Menteri Pertambangan akan diminta memberikan pandangan-pandangannya. Bisa saja ada Ormas yang masih minta, ada Ormas yang mungkin menolak. Nanti besok akan ketahuan. Begitu banyak, 87 Ormas, kita lihat di lapangan besok bersama-sama," pungkasnya.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >