
UPdates—Laut China Selatan memanas. Lebih 200 kapal Tiongkok terkonfirmasi berkumpul di sekitar Mischief Reef, sebuah wilayah sengketa di Laut China Selatan.
You may also like :
Alasan Keamanan, Amerika Serikat Larang Impor Robot Canggih Buatan China
Pengerahan ratusan kapal itu dilaporkan surat kabar Jepang, Asahi Shimbun, Minggu, 23 Agustus 2026.
You might be interested :
Presiden Marcos Singkirkan Wapres Sara Duterte dari Dewan Keamanan Filipina
Menurut organisasi analisis keamanan swasta DEEP Dive, jumlah kapal Tiongkok yang berlabuh di Mischief Reef meningkat dari kurang dari 40 kapal pada pertengahan Mei menjadi 80 kapal pada tanggal 27 bulan yang sama, melampaui 150 kapal pada awal Juni, dan mencapai 228 kapal pada tanggal 3 Juli.
Mischief Reef yang terletak di bagian timur Kepulauan Spratly dikenal sebagai Kepulauan Nansha di Tiongkok dan Kepulauan Kalayaan di Filipina.
Wilayah ini terletak sekitar 40 km di sebelah barat Second Thomas Shoal, wilayah yang secara efektif dikuasai oleh Filipina.
Ketegangan militer di Laut China Selatan meningkat di tengah spekulasi bahwa pengerahan kapal dalam skala besar ini mungkin bertujuan untuk memutus jalur pasokan bagi pasukan Filipina atau sebagai langkah persiapan untuk upaya perebutan Second Thomas Shoal di masa depan.
Muncul kekhawatiran bahwa Tiongkok dapat mengulangi pola tindakannya di masa lalu—seperti saat mereka merebut Mischief Reef dan membangun infrastruktur militer di sana, termasuk landasan pacu—yang berpotensi menyebabkan Second Thomas Shoal lepas dari kendali Filipina dan berubah menjadi pos militer China lainnya.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Asia Today, Mischief Reef berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina, namun Tiongkok masuk dan mulai menguasainya secara efektif pada pertengahan tahun 1990-an.
Setelah reklamasi lahan berskala besar dan pembangunan berbagai struktur pada tahun 2010-an, wilayah ini kini berfungsi sebagai pulau buatan dan pangkalan militer utama yang dilengkapi dengan landasan pacu sepanjang sekitar 3 km serta fasilitas radar.
Bonji Ohara, perwakilan DEEP Dive sekaligus mantan atase pertahanan Jepang di Tiongkok, bersama peneliti Miyabi Ishihara mencatat bahwa lebih dari 20 kapal yang berkumpul tersebut berlabuh dengan posisi saling terikat membentuk formasi rakit—sebuah konfigurasi yang jauh berbeda dari aktivitas penangkapan ikan pada umumnya, sehingga memunculkan analisis bahwa militer China sedang memanfaatkan milisi maritimnya untuk memperluas kendali efektif atas wilayah tersebut.