Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid (Foto: Kementerian Komdigi)

Mahasiswa Demo, Menteri Meutya Hafid Minta jangan Memprovokasi di Ruang Digital

12 June 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Menteri Komunikasi dan Informasi, Meutya Hafid, mengingatkan masyarakat untuk tidak memprovokasi di ruang digital saat menyampaikan atau mengikuti perkembangan aksi demonstrasi.
  • Pemerintah menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab.
  • Meutya Hafid menyarankan agar penyampaian aspirasi dilakukan secara damai dan tidak disertai tindakan kekerasan atau perusakan fasilitas umum.
  • Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai fenomena ilusi algoritma yang dapat membentuk persepsi keliru terhadap situasi yang sebenarnya terjadi di media sosial.
  • Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan tidak membagikan ajakan yang mengarah pada kekerasan.
  • Pemerintah berharap masyarakat dapat memanfaatkan ruang demokrasi secara sehat dengan tetap mengedepankan sikap kritis, damai, dan bertanggung jawab.
  • Meutya Hafid mengajak masyarakat untuk memperiksa informasi dari berbagai sumber dan memahami konteksnya sebelum menyimpulkan atau menyebarkan informasi.
atau

UPdates—Mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi demonstrasi di Jakarta Jumat, 12 Juni 2026.

You may also like : whatsapp image 2025 09 09 at 10.12.09Hari Ini BEM UI Gelar #RakyatTagihJanji di Gedung DPR/MPR RI

Menanggapi unjuk rasa tersebut, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tetap kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial saat menyampaikan maupun mengikuti perkembangan aksi demonstrasi.

You might be interested : meutya hafid komdigiPemerintah Jamin Sinyal Telepon dan Internet Aman selama Momen Mudik 

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat diminta mewaspadai fenomena ilusi algoritma yang dapat membentuk persepsi keliru terhadap situasi yang sebenarnya terjadi.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengatakan pemerintah menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.

Akan tetapi, kebebasan tersebut kata dia perlu diiringi dengan tanggung jawab menjaga ketertiban, keselamatan bersama, dan kualitas ruang digital.

“Pemerintah terbuka terhadap aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat. Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara yang dijamin dalam demokrasi. Karena itu, ruang untuk menyampaikan aspirasi harus tetap kita jaga bersama,” ujar Meutya Hafid sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari keterangannya di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.

Menurutnya, penyampaian aspirasi secara damai akan membuat pesan yang dibawa masyarakat lebih mudah dipahami dan diterima oleh publik.

Makanya, ia mengingatkan agar aksi tidak disertai tindakan yang mengarah pada kekerasan maupun perusakan fasilitas umum.

“Kritik boleh disampaikan dengan tegas, tetapi harus tetap damai. Jangan mudah terprovokasi sehingga memicu kekerasan, perusakan, pembakaran, penyerangan, atau tindakan lain yang membahayakan masyarakat,” tegasnya.

Selain kondisi di lapangan, Meutya menaruh perhatian pada dinamika ruang digital yang sering kali memengaruhi cara masyarakat memandang suatu peristiwa.

Ia menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan pola interaksi, minat, dan emosi pengguna sehingga konten yang muncul di linimasa belum tentu mencerminkan keseluruhan situasi yang sebenarnya.

“Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta. Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi,” katanya.

Fenomena tersebut dinilai semakin penting untuk dipahami masyarakat karena media sosial kini menjadi salah satu sumber utama informasi publik.

Tanpa kemampuan memverifikasi informasi, pengguna berpotensi terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang memperkuat pandangan tertentu dan mengabaikan fakta yang lebih luas.

Karena itu, Meutya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial selama berlangsungnya aksi penyampaian aspirasi. Ia mengimbau agar masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak membagikan ajakan yang mengarah pada kekerasan, serta tidak ikut memperluas provokasi di ruang digital.

Politikus Golkar itu juga mengingatkan ancaman hoaks, disinformasi, manipulasi video, maupun potongan informasi tanpa konteks yang kerap muncul saat terjadi peristiwa yang menjadi perhatian publik.

“Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Pemerintah berharap masyarakat dapat memanfaatkan ruang demokrasi secara sehat dengan tetap mengedepankan sikap kritis, damai, dan bertanggung jawab, baik di ruang fisik maupun ruang digital.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

capture

Hiram Johnson

“Korban pertama ketika perang datang adalah kebenaran”
Load More >