
UPdates–Tim gabungan berkerja ekstra keras dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.
Sumber air yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari titik kebakaran menjadi salah satu tantangan bagi tim.
Selain jauhnya sumber air, petugas harus menghadapi medan curam, tumpukan vegetasi kering, serta arah angin yang berubah.
You might be interested :
DPR Prihatin Kawasan Taman Nasional Jadi Ladang Ganja, 59 Titik dengan Luas 6.000 Meter Persegi
Kondisi tersebut membuat strategi pemadaman harus terus disesuaikan dengan perkembangan api di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) sejak Kamis, 6 Agustus 2026 untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memantau perkembangan kebakaran di kawasan TNBTS wilayah Lumajang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan personel dikerahkan secara bergantian dan terus berkoordinasi dengan unsur terkait untuk mengantisipasi perubahan pergerakan api.
Salah satu kendala yang dihadapi petugas adalah jarak titik pengambilan air yang mencapai sekitar tujuh kilometer dari lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut membuat pasokan air untuk pemadaman dari darat membutuhkan pengaturan khusus.
Akses menuju titik api juga memiliki medan curam sehingga memengaruhi mobilisasi personel dan peralatan pemadaman.
Di sekitar lokasi kebakaran, banyak ditemukan dahan dan ranting kering yang mudah terbakar. Material tersebut berpotensi mempercepat penjalaran api, terutama ketika angin bertiup kencang.
Perubahan arah angin turut menjadi perhatian petugas karena dapat mengubah arah pergerakan api dalam waktu relatif cepat. Kondisi tersebut membuat penanganan tidak dapat mengandalkan satu metode pemadaman.
Tim gabungan melakukan pemadaman dari darat dengan membuat sekat api dan menggunakan teknik gepyokan dengan dahan atau ranting basah. Pemotongan pohon di sekitar jalur alternatif juga dilakukan untuk mengurangi risiko api menjalar ke vegetasi lainnya.
Pemadaman dari darat diperkuat melalui operasi water bombing. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, dua helikopter melakukan penyiraman dari udara dengan mengambil air dari Ranu Regulo. Operasi serupa kembali dilakukan pada Sabtu.
"Kami melakukan monitoring dan menyiapkan langkah-langkah apabila api merambat ke wilayah Lumajang," ujar Isnugroho melalui keterangan pers yang diterima Minggu, 9 Agustus 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Info Publik.
Menurutnya, pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan karena kondisi kebakaran dapat berubah mengikuti arah angin dan kondisi vegetasi di lokasi.
Penanganan karhutla melibatkan TNBTS Resort Ranupane, BPBD Kabupaten Lumajang, Babinsa Argosari, Polsek Senduro, serta Masyarakat Peduli Api dari Desa Ranupane dan Argosari.
Dukungan penyiapan tangki air juga dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, dan BPBD Kabupaten Probolinggo untuk ditempatkan di sekitar kawasan Savana.
Berdasarkan asesmen BPBD Lumajang, penyebab kebakaran masih dalam proses identifikasi oleh petugas berwenang. Luas kawasan yang terbakar juga masih dalam proses asesmen dan penghitungan oleh TNBTS.
BPBD Lumajang mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga kawasan hutan dari sumber api. Warga, pengunjung, dan pelaku jasa wisata diminta mematuhi ketentuan penutupan kawasan serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Masyarakat juga diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Di tengah medan yang tidak mudah, pengendalian karhutla terus dilakukan melalui kombinasi pemadaman darat dan udara serta koordinasi lintas instansi. Keselamatan personel dan masyarakat tetap menjadi prioritas selama operasi berlangsung.