
UPdates—Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk mencegah pembentukan negara Palestina di Gaza atau Tepi Barat yang diduduki selama ia masih menjabat.
You may also like :
Sudah Ditegur Keras, Israel Tetap Bombardir Lebanon, Trump: Tanpa Saya, tidak Akan Ada Israel
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap Mansour Abbas, pemimpin United Arab List, yang mengatakan bahwa Palestina sudah ada sebagai sebuah negara dan diakui oleh sebagian besar dunia.
You might be interested :
Gaza Jadi Kuburan Jurnalis, 210 Dibunuh Israel, Ratusan Terluka, dan 177 Ditangkap dalam 17 Bulan
Abbas mendesak Israel dan AS untuk turut mengakui Palestina.
"Selama saya menjabat sebagai perdana menteri, tidak akan ada negara Palestina yang dikendalikan oleh Iran, baik di Gaza maupun di Yudea dan Samaria," ujar Netanyahu, menggunakan istilah alkitabiah untuk wilayah pendudukan tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Minggu, 23 Agustus 2026.
Saat berbicara dalam konferensi umum partainya di kota Arab Tayibe pada hari Sabtu sebelumnya, Abbas mengatakan bahwa partainya mengupayakan perdamaian antara Israel dan Palestina.
"Negara Palestina itu ada, dan dunia mengakuinya," kata Abbas, seraya menyerukan kepada Washington dan Tel Aviv untuk turut mengakuinya.
Pernyataan Netanyahu muncul menjelang pemilihan umum Knesset yang dijadwalkan pada 27 Oktober, di mana jajak pendapat menunjukkan partai Likud miliknya beserta mitra koalisinya gagal mencapai ambang batas 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan.
Likud, yang saat ini memegang 32 kursi, mengalami penurunan tajam dalam survei-survei terkini. Sebuah jajak pendapat pada hari Jumat menempatkan perolehan kursi partai tersebut di angka 20.
Jajak pendapat Channel 13 yang diterbitkan pada 19 Agustus memproyeksikan perolehan gabungan 51 kursi bagi Likud pimpinan Netanyahu serta sekutu sayap kanan jauh dan ultra-Ortodoksnya. Jumlah itu masih kurang 10 kursi untuk mencapai mayoritas parlemen.