
UPdates—Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah melaporkan komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya. Namun, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah malah membela sang komika.
You may also like :
Muhammadiyah Haramkan Money Politics di Pilkada 2024
Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla menegaskan bahwa aliansi yang mengatasnamakan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama yang melaporkan komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya bukan bagian dari PBNU.
You might be interested :
Syattariyah dan Naqsabandiyah Kamis, An-Nadzir Jumat, Muhammadiyah Sabtu, Pemerintah Minggu?
Juga tidak ada lembaga, badan otonom NU, maupun perkumpulan NU yang bernama Angkatan Muda NU. “Kalau representasi PBNU jelas tidak,” tegas Gus Ulil sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari NU Online, Jumat, 9 Januari 2026.
Gus Ulil mengatakan, sejak dulu banyak kelompok atau individu yang melakukan berbagai aktivitas dengan mengatasnamakan NU. Itu tidak terlepas dari karakter NU sebagai organisasi besar yang bersifat terbuka.
“Tetapi sejak dulu kan banyak orang bikin ini itu atas nama NU. Karena NU itu sifatnya terbuka, ya memang siapa saja bisa bikin lembaga atas nama NU,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah gerakan yang muncul atas nama NU kerap bersifat spontan dan temporer. Bahkan, sebagian hanya bertahan dalam hitungan jam.
“Ada yang mau demo untuk isu tertentu, bikin gerakan atas nama NU. Umurnya mungkin hanya beberapa jam saja, karena setelah jamnya lewat, gerakan itu ya ndak ada lagi. Itulah uniknya NU,” ungkapnya.
Gus Ulil menyoroti pentingnya ruang humor di tengah kehidupan masyarakat. Ia menyayangkan apabila seorang komedian yang bertugas menghibur publik justru harus berhadapan dengan proses hukum.
“Kita butuh banyak ketawa di negeri ini. Kasihan kalau komedian yang bikin banyak orang tertawa harus dilaporkan ke aparat hukum. Humor adalah koentji,” tulisnya.
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas juga membela Pandji dengan menegaskan bahwa kritik—dari mana pun datangnya—merupakan bagian penting dari kesehatan bangsa dan tidak layak disikapi secara reaktif.
Warga persyarikatan kata Anwar maupun publik luas seharusnya tidak antikritik. Bagi Anwar, kritik perlu dijadikan cermin untuk mengevaluasi apakah sebuah institusi sudah berjalan di jalur yang benar.
“Kita harus berlapang dada jika dikritik. Lewat kritik, kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum,” katanya dalam keterangan tertulis yang dilansir Keidenesia.tv, Jumat, 9 Januari 2026.
Bagi Muhammadiyah, upaya memperbaiki diri adalah bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Dan kritik, termasuk yang disampaikan lewat panggung komedi menurutnya sah selama mendorong perbaikan kualitas kebaikan dan kemaslahatan.
“Usaha menjadi baik itu bagi Muhammadiyah adalah tugas suci,” tegasnya.
Ditegaskan Anwar, ketersinggungan tidak seharusnya dibalas dengan pelaporan hukum, melainkan introspeksi.
Kendati begitu, Anwar mengingatkan bahwa kritik tetap perlu disampaikan secara proporsional dan berpijak pada rasionalitas.
“Pengkritik jangan terlalu emosional agar tetap konsisten menegakkan kebenaran,” nasihatnya.
Sebelumnya, Rizki Abdul Rahman Wahid yang mengatasnamakan Presidium Angkatan Muda NU, menyatakan bahwa pihaknya telah melaporkan Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya.
Rizki menjelaskan, laporan tersebut berkaitan dengan materi stand-up comedy Pandji dalam pertunjukan Mens Rea yang menyinggung pemberian konsesi tambang oleh pemerintah kepada NU.
“Menurut kami, beliau merendahkan, memfitnah, dan cenderung menimbulkan kegaduhan di ruang media serta memecah belah bangsa,” ujar Rizki.
Ia mengaku merasa dirugikan sebagai aktivis muda NU atas pernyataan Pandji yang menyebut NU terlibat politik praktis dan memperoleh imbalan dalam bentuk tambang.
“Saya sebagai aktivis muda Nahdlatul Ulama merasa dirugikan atas statemen beliau yang menyampaikan bahwa NU terlibat dalam politik praktis dan kemudian mendapatkan imbalan berupa tambang,” katanya.
Dalam materi stand up comedy-nya di Mens Rea, Pandji Pragiwaksono menyinggung soal politik balas budi pada konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada Ormas keagamaan. Ia secara khusus menyebut NU dan Muhammadiyah sebagai penerima konsesi.
"Ada yang ngerti politik balas budi? Gue kasih lu sesuatu, tapi lu kasih gue sesuatu lagi. Emang lu kenapa NU sama Muhammadiyah bisa ngurus tambang? Kenapa kira-kira? Karena diminta suaranya, gue kasih sesuatu yang lu suka, happy lah. Ormas agama ngurus tambang, happy lah," ujar Pandji.
"Dan sebenarnya nggak cuman ormas Islam saja, semua ormas agama ditawarin, tapi agama lain nolak. Ormas Islam, alhamdulillah rezeki anak sholeh, masa ditolak, hah, ini pasti karena aku rajin shalat, rezeki anak sholeh nih. Diambil guys. Gue denger-denger HKBP nolak. HKBP bilang, mohon maaf ini ngurus lapor ribet banget apalagi ngurus tambang, capek gue," lanjut Pandji.