
UPdates—Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan robot darat pengintai-penyerang bernama Droid TW-7.62 menangkap tiga tentara Rusia dari jarak jauh dalam operasi yang dilakukan sepenuhnya tanpa keterlibatan langsung personel Ukraina.
You may also like :
Kubah Besi Israel Payah, Warga Kaget Lihat Dahsyatnya Serangan Iran dan Minta Damai
Robot yang dibuat oleh perusahaan pertahanan DevDroid menunjukkan tentara Rusia, salah satunya berlumuran darah, mendekati robot darat bersenjata dengan tangan terangkat untuk menyerah.
You might be interested :
Ngeri, Heli Presiden Rusia di Pusat Pertempuran saat Serangan Besar-besaran Ukraina
Robot ini dilengkapi dengan senapan mesin KT-7.62 (PKT), dan komputer balistik terintegrasi dapat mendeteksi, melacak, dan menyerang target secara otonom.
Selain itu, robot ini juga dapat memastikan penghancuran yang akurat dan tembakan yang efisien.
Platform ini dilengkapi dengan elemen kecerdasan buatan yang memungkinkan deteksi, akuisisi, dan pelacakan target secara otonom.
Kemampuan ini memungkinkan robot untuk beroperasi di bawah pengawasan jarak jauh sambil menangani tugas-tugas yang jika tidak akan membuat infanteri terkena tembakan langsung.
Robot ini dioperasikan pada platform NUMO, yang baru-baru ini ditingkatkan dengan modul muatan yang dapat dipertukarkan, memungkinkan platform untuk melakukan misi logistik, teknik, dan tempur, serta menambahkan pelindung tambahan untuk perlindungan yang lebih baik.
“Tanpa risiko bagi para pejuang kami. Misi diselesaikan dari jarak jauh. Dana pertukaran telah diisi kembali. Inilah wujud peperangan modern. Robot di garis depan. Orang-orang aman,” tulis perusahaan tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Week, Kamis, 29 Januari 2026.
Operasi tersebut dilakukan oleh para prajurit Brigade Serangan Terpisah ke-3 dari angkatan bersenjata Ukraina di wilayah Kharkiv.
Sebelumnya, pasukan penyerang Ukraina menggunakan satu platform tempur robot berbasis darat untuk menghentikan kendaraan pengangkut personel lapis baja Rusia.
Ada juga contoh lain dari drone tempur berbasis darat yang mempertahankan posisi garis depan selama 45 hari berturut-turut tanpa kehadiran infanteri.
