
UPdates—Selat Hormuz memanas pada Senin, 4 Mei 2026. Iran dilaporkan mencegat dan menyerang kapal perang AS yang masuk ke Selat Hormuz.
You may also like :
Donald Trump Deklarasi Kemenangan, Presiden Prancis, PM Inggris, dan Israel sudah Beri Selamat
Dilaporkan bahwa kapal perang yang mendekat diberi peringatan yang cepat dan tegas.
You might be interested :
Pro-Kontra Tarif 19% vs 0%, Trump Klaim AS Dapat Akses Penuh untuk Semua Hal di Indonesia
Tak lama berselang, Fars News yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengutip sumber lokal melaporkan bahwa dua rudal menghantam kapal perang AS di dekat Pulau Jask Iran setelah mengabaikan peringatan.
Kapal tersebut sedang bergerak di dekat Jask menuju Selat Hormuz ketika menjadi sasaran, menurut laporan tersebut, yang menambahkan bahwa kapal perang tersebut tidak dapat melanjutkan rutenya dan terpaksa berbalik dan meninggalkan daerah tersebut.
Seorang pejabat AS membantah laporan bahwa Iran menembakkan dua rudal ke kapal Angkatan Laut AS setelah kapal tersebut mencoba melewati Selat Hormuz.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari APA, Senin, 4 Mei 2026, bantahan dari pejabat yang tidak disebutkan namanya tersebut disampaikan kepada reporter Axios dan Channel 12, Barak Ravid.
Seorang pejabat AS kepada The Jerusalem Post pada Senin sore juga membantah serangan itu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengkonfirmasi bahwa tidak ada kapal AS yang terkena serangan dalam unggahan sore hari di X.
CENTCOM juga menambahkan bahwa pasukan AS mendukung Proyek Freedom dan menegakkan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Selain serangan ke kapal perang AS, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab mengatakan bahwa sebuah kapal tanker nasional ADNOC dihantam oleh dua drone saat melintasi Selat Hormuz, dan menambahkan bahwa tidak ada korban luka yang dilaporkan.
UEA menegaskan bahwa serangan itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817, yang menekankan kebebasan navigasi dan menolak penargetan kapal komersial atau mengganggu jalur maritim internasional.
“Menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan atau pemerasan ekonomi merupakan tindakan pembajakan oleh Garda Revolusi Iran dan menimbulkan ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan dan rakyatnya, serta terhadap keamanan energi global,” demikian pernyataan tersebut.
Insiden ini terjadi setelah para pejabat Iran memperingatkan sebelumnya pada hari Senin bahwa proposal AS untuk mengawal dan memandu kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz akan menjadi pelanggaran gencatan senjata.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin oleh komando gabungan angkatan bersenjata Iran memperingatkan Angkatan Laut AS agar tidak memasuki Selat Hormuz.
“Kami telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di bawah kendali angkatan bersenjata Republik Islam Iran, dan dalam keadaan apa pun, setiap jalur aman harus dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata,” tegas komando gabungan itu.
Pernyataan tersebut secara eksplisit mengancam akan menyerang pasukan militer asing mana pun, khususnya pasukan AS, yang mencoba memasuki atau mendekati selat tersebut.
Pada hari Senin, Angkatan Laut IRGC juga mengeluarkan peta baru wilayah Selat Hormuz yang berada di bawah kendalinya, menurut laporan media pemerintah. Belum jelas apakah dan sejauh mana klaim wilayah kendali mereka telah berubah.
Wilayah tersebut dimulai di sebelah barat dengan garis antara ujung paling barat pulau Qeshm Iran hingga emirat Umm al Quwain di Uni Emirat Arab.
Di sebelah timur, wilayah tersebut berhenti pada garis antara Gunung Mobarak Iran dan Emirat Fujairah di Uni Emirat Arab.